Sekolah di masa kini diharapkan tak lagi bergantung ke kemampuan akademik
JAKARTA – Dunia makin cepat berubah, diikuti dengan pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI), serta tingginya arus informasi. Hal ini mengubah banyak pola kehidupan manusia, termasuk anak dan remaja, di mana mereka tumbuh di tengah tekanan akademik, sosial, dan emosional yang makin kompleks.
Dalam konteks ini peran sekolah dewasa ini ikut berubah. Pendidikan tidak lagi tentang pencapaian nilai akademik, tetapi perlu menjadi ruang aman bagi siswa untuk belajar menghadapi tantangan, mengelola emosi, dan beradaptasi dengan perubahan.
Head of School North Jakarta Intercultural School (NJIS), Ezra Alexander, menilai perlu adanya penyesuaian cara pandang dalam melihat tujuan pendidikan. Jika selama ini tolok ukur kesuksesan siswa ditentukan oleh nilai, kini standar tersebut tidak lagi relevan.
“Anak dianggap sukses di sekolah bukan sekadar saat dia meraih nilai A, tetapi ketika mereka akhirnya mampu menghadapi situasi sulit, beradaptasi dengan perubahan, mengelola emosi, serta memandang tantangan sebagai bagian dari proses belajar dan bertumbuh,” ujar Ezra.
Ia menjelaskan bahwa ketangguhan (resilience) dan fleksibilitas (adaptability) perlu dibangun melalui pengalaman belajar yang nyata, baik di sekolah maupun di rumah. “Anak perlu dibiasakan untuk mencoba, menghadapi kegagalan, lalu merefleksikannya sebagai momen evaluasi dan perbaikan sehingga kepercayaan diri dan daya tahan mental terbentuk,” ucapnya.

















































