CNN Indonesia
Selasa, 20 Jan 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Anak disebut lebih rentan alami masalah mental. (iStock/Nuttawan Jayawan)
Jakarta, CNN Indonesia --
Anak-anak kini menghadapi kerentanan baru dalam hal kesehatan mental. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengingatkan bahwa anak di bawah 18 tahun lima kali lebih rentan mengalami kecemasan (anxiety) dan depresi dibandingkan orang dewasa, sebuah temuan yang memperlihatkan kondisi psikologis generasi muda sedang berada di titik rawan.
Peringatan ini muncul setelah meningkatnya temuan kasus gangguan mental pada anak melalui cek kesehatan gratis (CKG) yang kini tak hanya memantau kondisi fisik, tetapi juga kesehatan jiwa. Hasilnya cukup mengejutkan, gangguan mental pada orang dewasa hanya ditemukan pada 0,8-0,9 persen, sementara pada anak angkanya melonjak hingga 5 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dewasa yang ditemukan gangguan mental hanya 0,8 hingga 0,9 persen, tetapi anak-anak itu 5 persen," ujar Budi dalam Rapat Koordinasi Komite Kebijakan Sektor Kesehatan (KKSK) 2025, Senin (8/12) mengutip Detik.
Menkes menyoroti perubahan pola interaksi sosial sejak dini sebagai salah satu faktor utama. Paparan gawai yang makin intens membuat anak-anak banyak berinteraksi melalui dunia digital, bukan dunia nyata, sebuah perubahan yang tak selalu baik untuk kesehatan mental.
"Banyak anak mengalami gangguan kejiwaan, terutama dengan adanya teknologi baru seperti gawai yang mereka pakai terus-menerus," tuturnya.
Konten digital yang tidak selalu sehat, interaksi yang penuh tekanan sosial, hingga berkurangnya aktivitas sosial langsung dianggap berkontribusi terhadap naiknya kecemasan dan depresi pada anak.
Kementerian Kesehatan juga mencatat 100 ribu aduan yang masuk melalui layanan 119, mayoritas terkait kecemasan atau anxiety. Angka ini menunjukkan semakin banyak masyarakat yang mulai mencari pertolongan, namun juga mengindikasikan tingginya kasus yang terjadi.
Secara global, WHO mencatat 1 dari 8 orang mengalami gangguan mental. Di Indonesia, jumlahnya diperkirakan mencapai lebih dari 35 juta orang, sebagian besar tak terdiagnosis karena minimnya skrining dan masih kuatnya stigma.
Dengan angka yang mengkhawatirkan, Budi menekankan bahwa gangguan mental tidak boleh dibiarkan tanpa penanganan. Intervensi diperlukan dari tahap paling ringan hingga paling berat.
"Gangguan mental membutuhkan intervensi dari yang ringan sampai berat, mulai dari konseling sampai pengobatannya," kata Budi.
(tis/tis)

3 hours ago
2

















































