Astra Tebar Dividen Rp15,7 T, Cair 25 Mei 2026

5 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

PT Astra International Tbk membagikan dividen tunai sebesar Rp15,7 triliun dari laba bersih Rp32,8 triliun tahun buku 2025. Keputusan tersebut ditetapkan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2026 yang digelar di Jakarta, Kamis (23/4).

Chief of Corporate Affairs Astra Boy Kelana Soebroto mengatakan total dividen tersebut setara Rp390 per saham, termasuk dividen interim Rp98 per saham yang telah dibayarkan pada Oktober 2025.

Dengan demikian, sisa dividen sebesar Rp292 per saham akan dibayarkan pada 25 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebesar Rp390 per saham dibagikan sebagai dividen tunai, termasuk dividen interim Rp98 per saham yang telah dibayarkan sebelumnya. Sisanya Rp292 per saham akan dibayarkan pada 25 Mei 2026," ujar Boy dalam konferensi pers.

Selain membagikan dividen, perseroan juga menyisihkan sisa laba sebesar Rp17,1 triliun sebagai laba ditahan.

Di sisi lain, Presiden Direktur Astra Rudy mengatakan perseroan menyiapkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sekitar Rp36 triliun pada 2026 atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya.

"Pada tahun 2026 kami berencana meningkatkan alokasi investasi sekitar 10 persen menjadi sekitar Rp36 triliun," ujar Rudy.

Ia menjelaskan sebagian besar capex akan dialokasikan untuk kebutuhan operasional (maintenance), namun perusahaan tetap membuka peluang investasi di sektor strategis, seiring proses peninjauan strategi bisnis yang tengah berjalan.

Lebih lanjut, Rudy mengakui kondisi global turut memberi tekanan terhadap kinerja perusahaan, terutama dari sisi biaya produksi. Kenaikan harga energi dan pelemahan nilai tukar rupiah disebut berdampak langsung pada beban operasional.

"Kelemahan rupiah tentu akan berdampak pada ongkos produksi kami," jelasnya.

Meski demikian, perusahaan menilai memiliki ketahanan yang cukup kuat berkat ekosistem bisnis yang terintegrasi, mulai dari manufaktur hingga distribusi, sehingga dapat meredam sebagian tekanan biaya tersebut.

"Tapi untungnya adalah kita punya ekosistem yang cukup lengkap dengan manufacturing, distribution, retail dan sebagainya. Sehingga ketahanan kita lebih tinggi karena kita bisa balance satu sama yang lain," pungkas Rudy.

[Gambas:Video CNN]

(lau/sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |