Bank Sentral Amerika Minta Dunia Pangkas Konsumsi Minyak dan Gas

2 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Kepala Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) Dallas, Lorie Logan menilai dunia perlu memangkas konsumsi minyak dan gas jika penutupan Selat Hormuz terus berlanjut.

Logan mengingatkan masyarakat di seluruh dunia harus menemukan cara untuk bertahan dengan jumlah minyak dan gas yang lebih sedikit, jika Selat Hormuz tertutup lebih lama akibat perang AS-Israel terhadap Iran, Rabu (27/5) dilansir dari Reuters

Langkah Iran untuk menutup jalur pelayaran di Selat Hormuz telah berlangsung sekitar tiga bulan terakhir. Kondisi tersebut memicu lonjakan harga energi, pangan, hingga pupuk.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apalagi, sekitar seperlima dari pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati jalur perairan tersebut sebelum perang pecah.

"Dengan pasokan yang sangat terbatas, jika pelayaran melalui selat tidak segera kembali seperti sebelum perang, konsumsi minyak dan gas alam dunia mungkin turun lebih signifikan daripada yang terjadi sejauh ini," kata Logan dalam pidato yang disiapkan untuk konferensi Bank Sentral Jepang (BOJ).

Logan menekankan dampak ekonomi dari penutupan Selat Hormuz sangat bergantung pada kondisi dunia untuk bisa beralih ke sumber energi lain. "Atau menggunakan energi secara lebih efisien, dibandingkan dengan memangkas aktivitas ekonomi," jelasnya.

[Gambas:Youtube]

Sementara itu, dalam survei The Fed Dallas baru-baru ini para eksekutif memperkirakan produksi minyak AS 2026 hanya meningkat sebesar 250 ribu barel per hari, dan tumbuh sekitar 500 ribu barel per hari di tahun depan.

Angka tersebut jauh lebih kecil dibandingkan penurunan pasokan minyak global, yakni berkisar 13 juta barel per hari sejak dimulainya perang Iran dan AS tersebut.

Adapun kekurangan pasokan energi global sejauh ini ditambal dengan menguras cadangan persediaan, sebagaimana dicatat Logan jumlahnya terbatas.

"Bagaimanapun caranya, saya memperkirakan pasar energi akan mencapai keseimbangan dalam waktu dekat. Jika molekul (energi) tersebut tidak tersedia, dunia tidak akan bisa mengonsumsinya," ujarnya.

Sebagai informasi, Logan merupakan salah satu dari tiga pembuat kebijakan di Bank Sentral AS yang menentang keputusan suku bunga bulan lalu. Mereka menilai The Fed seharusnya memberikan sinyal bahwa dengan melonjaknya harga energi dan komoditas lainnya, kemungkinan kenaikan suku bunga setara dengan potensi penurunan suku bunga.

Dalam naskah pidatonya untuk konferensi yang tertutup bagi pers tersebut, ia tidak memberikan perkiraan ekonomi jangka pendek maupun komentar mengenai kebijakan moneter.

Namun, ia menggunakan pidato tersebut untuk menyerukan peningkatan ketahanan pasar Obligasi Pemerintah (Treasury) AS melalui kliring terpusat pada perdagangan sekuritas Treasury milik The Fed sendiri, serta memperkuat instrumen likuiditas The Fed di luar operasi repo yang ada saat ini.

Logan juga mencatat bahwa investor dengan leverage tinggi telah menguasai porsi kepemilikan Treasury yang semakin besar.

"Posisi dengan leverage tinggi dapat berbalik (unwind) dengan cepat jika terjadi guncangan harga atau pendanaan," katanya. 

Ia juga menambahkan kalau sejauh ini Pasar Treasury menopang keuangan AS, aliran investasi, serta implementasi dan transmisi kebijakan moneter.

"Ketahanannya layak dan membutuhkan upaya serta kewaspadaan yang berkelanjutan," tandasnya.

(ins)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |