Blok M, Masa Mati Suri hingga Nostalgia yang Hidupkan Denyut Nadi

6 hours ago 5

Anagatha Kilan | CNN Indonesia

Jumat, 17 Apr 2026 19:30 WIB

Blok M adalah pusat pertemuan, perbelanjaan, hingga kuliner. Blok M merupakan primadona anak muda Jakarta pada era 1980-an sampai awal 2000-an. Pemandangan warga beraktivitas di kawasan Blok M Hub, Jakarta Selatan. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Jakarta, CNN Indonesia --

Hari ini, denyut nadi Blok M semakin berdetak cepat. Sebagai jantung wilayah Kebayoran, Jakarta Selatan, Blok M seakan menjadi pusat peradaban bagi kalangan anak muda.

Blok M adalah pusat pertemuan, perbelanjaan, hingga kuliner. Blok M merupakan primadona anak muda Jakarta pada era 1980-an sampai awal 2000-an.

Namun, ada masa-masa ketika kawasan Blok M sepi. Mal Blok M sempat mengalami mati suri, di mana banyak kios tutup dan suasana sepi total, berbeda 180 derajat dengan masa jayanya di era 90-an hingga 2000-an.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kehadiran Blok M saat ini tak lepas dari perjalanan panjangnya. Ternyata kawasan tersebut pernah menjalani hari-hari yang berlalu sepi, karena kehilangan daya pikat.

Kendati demikian, mungkin waktu tidak bisa benar-benar melunturkan karakter tempat ini. Nostalgia membawa kembali denyut nadi Blok M, pengunjung melangkah kembali ke sana untuk menikmati kembali sudut-sudut jadul.

Awal Pembuatan Blok M Sebagai Hub Kebayoran

Di masa lalu, saat pertama kali ada perencanaan pembangunan kota satelit baru Kebayoran sekitar tahun 1948, kawasan Blok M sudah ditargetkan menjadi Hub dan pusat perbelanjaan.

Lokasi Blok M berada di tengah peta Kebayoran Baru rancangan Moh Soesilo, membuatnya sebagai titik pertemuan dan penghubung kawasan-kawasan lain di sekitarnya. Setelah pembangunan selesai dan Blok M berfungsi optimal, masyarakat setempat mulai menghidupkan tempat ini.

Sejarawan Jakarta Andi Achdian menjelaskan bahwa tonggak pertama kejayaan Blok M terjadi sekitar tahun 1980-an. Saat itu perekonomian Indonesia dikatakan sudah membaik, sehingga memunculkan kelompok kelas menengah dan meningkatkan budaya konsumtif masyarakat.

Kondisi ini membuka peluang besar bagi Blok M yang sedari awal sudah dirancang sebagai tempat perbelanjaan. Di masa-masa itu, masyarakat setempat selalu melancong ke Blok M untuk berbelanja atau sekadar nongkrong, layaknya anak muda yang gaul di ibu kota.

"Blok M yang sejak awal telah dirancang sebagai tempat perbelanjaan menjadi tempat penting budaya nongkrong anak-anak muda saat itu," kata Andi Achdian kepada CNNIndonesia.com, Rabu (15/4).

Spot Nongkrong Populer

Di puncak kejayaannya saat itu, setiap mata dan kamera menyorot Blok M. Bahkan banyak film yang menangkap pesona Blok M sebagai latar adegan. Blok M benar-benar menjadi Hub di jantung Kebayoran Baru.

Popularitasnya semakin melejit, didorong dengan adanya terminal bus Blok M yang baru dibangun. Terminal tersebut menambah ramai hilir-mudik masyarakat di sana, ditambah lagi pedagang juga semakin menjamur dan memperkuat status Blok M sebagai pusat perbelanjaan.

"Jadi di situ ada kawasan pemukiman, niaga, dan transportasi. Fungsinya sebagai titik hub untuk menghubungkan dengan daerah yang lain," beber pria yang menjabat sebagai Kaprodi Sosiologi FISIP Universitas Nasional (UNAS).

Pembukaan Blok M Plaza pada tahun 1990 mengukuhkan kawasan ini sebagai destinasi belanja bagi kaum menengah kota Jakarta. Saat itu sepanjang hari Blok M seakan tak pernah tertidur, karena malam harinya gemerlap hiburan malam memeriahkan tempat ini. Tak ayal membuat anak muda memilih spot ini sebagai tempat nongkrong.

"Pusat kawasan tempat anak-anak muda nongkrong saat itu ya Blok M. Sebenarnya tidak hanya anak Punk, tetapi berbagai sub-kultur anak muda muncul," ungkap dia.

Terdengar ingar-bingar di setiap sudut Blok M, berasal dari bar, kafe, sampai karaoke yang menghidupi kawasan hingga larut malam. Tak ada yang menyangka bahwa popularitas bukanlah situasi konstan bagi Blok M.

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |