Bukan Cuma Tempat Tinggal, Rumah Ternyata Jadi Cermin Karakter Orang

7 hours ago 1

CNN Indonesia

Sabtu, 06 Jun 2026 17:38 WIB

Bukan Cuma Tempat Tinggal, Rumah Ternyata Jadi Cermin Karakter Orang Ilustrasi. Rumah ternyata bisa menentukan kepribadian seseorang. (iStockphoto/Kwanchai_Khammuean)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Rumah sering dianggap sebagai tempat untuk beristirahat setelah beraktivitas seharian. Namun, bagi banyak orang, terutama generasi Z, hunian memiliki makna yang jauh lebih dalam.

Kamar yang dipenuhi koleksi buku, meja kerja yang tertata rapi, hingga pilihan tinggal di kawasan yang dekat dengan pusat aktivitas ternyata bukan sekadar soal selera. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa cara seseorang menata dan memilih tempat tinggal dapat mencerminkan kepribadian, kebiasaan, bahkan kebutuhan emosionalnya.

Melansir Oxford Academic, konsep rumah sendiri tidak hanya berkaitan dengan bangunan fisik. Para peneliti menemukan bahwa rumah juga memiliki dimensi psikologis, sosial, dan simbolik yang membantu manusia membangun identitas serta rasa memiliki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Lantas, apa saja yang bisa diketahui tentang kepribadian seseorang dari huniannya? Berikut penjelasannya:

Bagi seseorang, rumah bukan hanya tempat pulang. Hunian juga menjadi ruang untuk mengekspresikan diri.

Hal ini terlihat dari kebiasaan mendekorasi kamar sesuai minat pribadi, mulai dari memasang poster musisi favorit, mengoleksi tanaman hias, hingga membuat sudut kerja yang estetik untuk kebutuhan belajar atau bekerja.

Para peneliti menyebut personalisasi ruang sebagai salah satu cara manusia membangun identitas. Rumah menjadi cerminan dari nilai, minat, dan gaya hidup yang ingin ditampilkan kepada diri sendiri maupun orang lain.

Tak heran jika banyak orang menganggap kamar atau ruang pribadinya sebagai representasi diri yang paling jujur.

Melansir Science Direct, cara seseorang mengatur rumah sering kali mencerminkan pola pikir dan kebiasaannya.

Penelitian menemukan bahwa manusia secara alami membagi rumah ke dalam area-area tertentu sesuai fungsi, seperti ruang tidur, ruang berkumpul, area makan, hingga tempat bekerja. Menariknya, pola serupa juga ditemukan pada sejumlah spesies hewan yang memisahkan area istirahat, penyimpanan makanan, dan aktivitas lainnya.

Orang yang menyukai keteraturan biasanya cenderung menata ruang secara sistematis dan terstruktur. Sebaliknya, mereka yang lebih fleksibel sering kali tidak terlalu membatasi fungsi setiap sudut rumah.

Setiap orang memiliki batas kenyamanan yang berbeda dalam berinteraksi dengan orang lain. Karena itu, rumah umumnya memiliki area yang lebih terbuka untuk tamu dan area yang lebih privat untuk penghuni.

Bagi banyak orang, kamar tidur bukan sekadar tempat tidur. Ruangan tersebut sering menjadi tempat mencari ketenangan saat merasa lelah, stres, atau membutuhkan waktu untuk diri sendiri.

Kebutuhan terhadap ruang personal ini menunjukkan kemampuan seseorang dalam menetapkan batasan yang sehat dalam kehidupan sosial.

4. Rumah yang terang dan nyaman memengaruhi suasana hati

Kepribadian dan kenyamanan penghuni juga dipengaruhi oleh kondisi fisik rumah.

Dalam study bertajuk The Effect of Daylighting and human behavior on luminous comfort in residential buildings: A Questionnaire Survey menemukan bahwa tingkat kenyamanan seseorang dipengaruhi oleh kualitas pencahayaan alami dan perilaku penghuni dalam memanfaatkan ruang. Semakin baik pencahayaan alami yang masuk ke rumah, semakin tinggi tingkat kenyamanan yang dirasakan.

Tak mengherankan jika banyak anak muda kini lebih memperhatikan keberadaan jendela besar, sirkulasi udara yang baik, ruang terbuka hijau, hingga akses cahaya matahari saat memilih tempat tinggal.

Lokasi yang dekat dengan tempat kerja, transportasi publik, pusat kuliner, fasilitas kesehatan, hingga area hiburan dianggap mampu meningkatkan kualitas hidup karena membuat mobilitas menjadi lebih efisien.

Fenomena ini juga diamati oleh berbagai pengembang properti. Direktur Sales & Marketing Paramount Land, Ferry John Sihombing, mengatakan bahwa generasi muda kini semakin memprioritaskan kemudahan akses, konektivitas, dan potensi pengembangan jangka panjang saat memilih hunian.

Menurut Ferry, pergeseran preferensi tersebut menunjukkan bahwa rumah saat ini tidak lagi dipandang sekadar sebagai tempat tinggal, melainkan bagian dari gaya hidup yang mendukung aktivitas sehari-hari.

"Tren kenaikan nilai properti seiring hadirnya akses tol langsung merupakan dampak positif dari pergeseran preferensi pembeli, khususnya generasi muda, yang kini semakin memprioritaskan kemudahan akses, konektivitas, dan potensi pengembangan jangka panjang dalam memilih properti," ujar Ferry.

Rumah memang bisa berbicara banyak tentang penghuninya. Dari cara menata ruang, menjaga privasi, hingga memilih lokasi tempat tinggal, semuanya mencerminkan kebutuhan, karakter, dan gaya hidup yang ingin dijalani.

(tis/tis)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |