Jakarta, CNN Indonesia --
Pasar saham Indonesia kembali berada dalam tekanan besar di tengah meredanya gejolak di bursa global. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk 3,46 persen ke level 6.370 pada penutupan perdagangan Selasa (19/5) dan menjadi salah satu indeks dengan performa terburuk di kawasan Asia.
Tercatat, mayoritas bursa saham di kawasan Asia terpantau bergerak di zona hijau. Indeks Hang Seng Composite di Hong Kong menguat 0,48 persen, indeks Shanghai Composite di China plus 0,92 persen, dan indeks Straits Times di Singapura naik 1,21 persen. Di sisi lain, indeks Nikkei 225 di Jepang melemah 0,44 persen, jauh lebih rendah dari IHSG.
Di bursa saham Eropa, DAX di Jerman menguat 1,37 persen dan indeks FTSE 100 di Inggris plus 0,75 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mayoritas bursa relatif stabil, bahkan sebagian berhasil menguat setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan terhadap Iran. Sentimen global yang semula membebani pasar perlahan mereda, harga minyak turun, imbal hasil obligasi global melandai, dan pasar Eropa menghijau.
Di tengah membaiknya kondisi bursa saham lain, IHSG justru rontok. Kondisi ini memunculkan pertanyaan, apakah investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia, bahkan setelah sejumlah perbaikan yang dilakukan otoritas pasar modal RI?
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi kali ini menunjukkan masalah domestik mulai jauh lebih dominan dibanding sentimen eksternal.
"Ini menunjukkan tekanan terhadap pasar domestik saat ini bukan hanya dipengaruhi faktor eksternal, tetapi juga mencerminkan mulai rapuhnya kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi dan stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka pendek," kata Hendra kepada CNNIndonesia.com.
Menurutnya, jika faktor global mulai mereda tetapi IHSG tetap runtuh, maka pasar sedang menunggu kepastian arah ekonomi nasional. Investor dinilai mulai mempertanyakan stabilitas rupiah, arah kebijakan fiskal, hingga kemampuan pemerintah menjaga kepercayaan pasar.
"Pelemahan IHSG kali ini juga tergolong cukup serius karena terjadi hampir merata di berbagai sektor, terutama basic industry yang anjlok hingga 7,30 persen," ujarnya.
Saham-saham berkapitalisasi besar seperti TPIA, BRPT, INKP, TKIM hingga SMGR mengalami tekanan jual agresif. Hendra melihat kondisi tersebut mengindikasikan adanya aksi pengurangan risiko besar-besaran oleh investor institusi maupun asing.
Di saat yang sama, saham berbasis komoditas dan energi juga ikut tertekan akibat turunnya harga minyak dan meningkatnya kekhawatiran perlambatan ekonomi global. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau, karena dinilai lebih defensif di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Selain tekanan di pasar saham, perhatian investor kini juga tertuju pada nilai tukar rupiah. Mata uang Garuda kembali melemah dan tembus ke level Rp17.700 per dolar AS.
Menurut Hendra, pelemahan rupiah menjadi alarm penting karena berdampak langsung terhadap inflasi impor, beban utang luar negeri korporasi, hingga risiko fiskal pemerintah. Kombinasi pelemahan rupiah dan keluarnya dana asing dari pasar saham dinilai menjadi skenario yang sangat diwaspadai investor.
"Ketika rupiah terus melemah bersamaan dengan keluarnya dana asing dari pasar saham, maka tekanan terhadap IHSG biasanya akan menjadi lebih besar," jelasnya.
Ia menilai pidato Presiden Prabowo Subianto dalam sidang paripurna DPR hari ini (20/5) akan menjadi momentum penting yang akan dicermati pasar. Investor menunggu kejelasan arah kebijakan pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi dan pasar keuangan.
Apabila pidato Prabowo mampu memberikan kejelasan arah kebijakan, disiplin fiskal, serta sinyal keberpihakan terhadap stabilitas pasar dan dunia usaha, maka sentimen pasar berpotensi membaik dan IHSG berpeluang bangkit. Namun, jika pasar menilai belum ada langkah konkret untuk memulihkan kepercayaan investor, maka tekanan masih berpotensi berlanjut.
Secara teknikal, Hendra menyebut area 6.300 menjadi level psikologis penting bagi IHSG. Jika level tersebut mampu dipertahankan, peluang rebound menuju area 6.500 hingga 6.535 masih terbuka.
Namun jika support itu ditembus, pasar dinilai bisa masuk ke fase krisis kepercayaan jangka pendek yang lebih dalam. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung memilih saham berfundamental kuat dan lebih defensif terhadap pelemahan ekonomi.
"Pidato Presiden berpotensi menjadi salah satu momentum penting untuk menentukan apakah pasar mulai menemukan titik stabilisasi atau justru kembali kehilangan arah," tegasnya.
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
5

















































