Makassar, CNN Indonesia --
Tim SAR gabungan menemukan korban kedua dari kecelakaan pesawat ATR 42-500 di lereng Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.
Salah satu tim SAR, Saiful Malik (34) mengatakan, korban ditemukan sekitar 100 meter sebelum titik jatuhnya kepala pesawat.
"Saya menyisir ke lereng sebelah kanan dan menemukan bekas pohon serta batu yang pecah. Di situlah korban ditemukan dalam kondisi tengkurap di lereng yang sangat curam," kata Saiful di posko SAR Tompo Bulu, Senin (19/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Korban berjenis kelamin perempuan tersebut ditemukan di kedalaman 300 meter dalam posisi tengkurap di antara serpihan mesin pesawat. Tim SAR menemukan name tag diduga milik kru pesawat ATR 42-500, Senin (19/1) sekitar pukul 14.20 WITA.
"Iya, identifikasi awal perempuan cuma saya belum berani mendekat. Saya tunggu teman-teman dulu. Begitu Abang dan teman-teman Basarnas dan yang lainnya datang, kita dekati, fix perempuan dan masih ada ini nametag. Nametag ya, perempuan," ungkapnya.
Menurut Saiful name tag itu diduga bernama seorang perempuan. Namun, dia mengaku lupa nama di name tag saat menemukan korban kedua kecelakaan pesawat ATR tersebut.
"Name tag-nya masih ada namanya. Aduh, gara-gara kecapekan saya enggak berani memastikan. Yang dari manifest yang di Manado, awak Manado itu kayaknya. Ester atau Florencia. Florencia kayaknya," ungkapnya.
Saiful menerangkan bahwa korban ditemukan dalam posisi tengkurap dan kondisi tubuh korban masih utuh.
"Kondisi posisi tengkurap. Tengkurap, bagian perut agak terburai, terus kaki patah sebelah kanan. Baju utuh, kepala masih ada. Warna hitam, non-uniform sih, kayak celana kets, sepatu kets, celana jins, cuma baju uniform ATR. Itu kita sempat nunggu kantong mayat agak lama, nggak lama datang kita packing, terus kita mobilisasi semaksimal mungkin ke jalur utama untuk turun," jelasnya.
Sementara anggota tim SAR lainnya dari Yonmarhanlan Makassar, Serda Marinir, Syamsul Alam (40) mengatakan bahwa saat menemukan korban kedua ini di kedalaman 300 meter dengan kondisi medan yang sangat berkabut dan jalurnya terjal serta curam.
"Setelah kita temukan itu, kita mencari jalan alternatif karena ini sudah pukul 15.00 WITA lewat dan berkabut. Jadi kita ambil alternatif kita tutup sementara. Ternyata kantong mayat datang, jadi kita pindahkan ke yang lebih aman," katanya.
Menurut Syamsul bahwa korban kedua setelah dimasukkan ke dalam kantong jenazah kemudian digantung agar posisinya aman
"Sudah bergeser kurang lebih 25 meter ke kanan dalam kantong, kita gantung. Berarti posisinya aman. Jarak kira-kira sekitar 350 meter dari puncak," ungkapnya.
Posisi korban kedua ini, kata Syamsul ditemukan tidak jauh dari serpihan pesawat yang juga ditemukan oleh tim SAR gabungan saat mencari para korban.
"Sangat dekat dari serpihan. Yang paling dekat itu baterai. Dekat dengan potongan besar mesin (engine). (posisi) Selatan. Dia tersangkut di kayu, kalau tidak ada kayu ini sudah jatuh ke bawah," jelasnya.
Akibat cuaca buruk di Gunung Bulusaraung, kata Syamsul jenazah korban tidak dapat dievakuasi langsung ke posko SAR.
"Masih di atas, karena cuaca tidak memungkinkan. Tapi sudah di-packing, sudah digeser ke tempat yang lebih aman," pungkasnya.
(mir/ugo)

3 hours ago
1

















































