Cerita Tragis Danau Tenang, Tewaskan 1.746 Orang dalam 1 Malam

3 hours ago 5

CNN Indonesia

Sabtu, 14 Mar 2026 19:28 WIB

Ini adalah kisah tragis Danau Nyos yang menewaskan 1.746 orang dan ribuan hewan ternak dalam semalam ketika mereka tengah terlelap. Danau Nyos di Kamerun, yang merupakan sebuah danau vulkanik. (Jack Lockwood, USGS via Wikimedia Commons)

Jakarta, CNN Indonesia --

Maut tak pernah datang dengan peringatan, bahkan hanya semalam sebuah danau yang tenang mencabut nyawa ribuan orang dalam diam. Ini adalah kisah tragis Danau Nyos yang menewaskan 1.746 orang dan ribuan hewan ternak ketika mereka tengah terlelap.

Peristiwa ini bukan terjadi karena gempa, badai, atau tsunami yang dapat dilihat tanda-tandanya. Melainkan sebuah bencana yang datang dengan hening, diam-diam melepaskan gas beracun yang tidak disadari oleh siapapun tetapi langsung mematikan.

Tak jauh dari ibu kota Yaonde, Kamerun, Afrika Tengah, ada sebuah danau vulkanik bernama Danau Nyos. Di bawah permukaan danau itu, karbon dioksida tidak bercampur dengan air seperti danau pada umumnya, ini disebut dengan meromictic.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Melansir Far Out Magazine, Magma di bawah sana perlahan tapi pasti melepaskan gas, hasilnya karbon dioksida terus mencoba naik ke atas permukaan. Tetapi karena Danau Nyos bersifat meromictic sehingga air tidak bercampur dengan karbon dioksida, lama-lama titik krisis itu datang.

Air sudah tidak mampu lagi menahan desakan karbon dioksida, mau tak mau harus segera dikeluarkan. Ibarat botol soda yang dikocok, selama tutupnya masih terpasang maka gas tidak keluar, tetapi ketika tutup itu dilepas maka soda dan gas akan menghambur keluar seperti ledakan.

Air ibarat tutup botol soda, dan karbon dioksida adalah soda yang terkocok dalam kasus ini. Pada tanggal 21 Agustus 1986, Danau Nyos diam-diam melepaskan awan raksasa dengan muatan gas karbon dioksida yang beracun ke udara. Gas itu dengan cepat merayapi daerah sekitarnya dan meluas ke mana-mana.

Bencana yang tak disadari itu terjadi pada pukul 09.30 malam waktu setempat. Malam itu, belum ada yang menyadari potensi bencana besar dari ancaman ini, tetapi penduduk desa di sekitar sana melaporkan ada suara seperti gemuruh ketika karbon dioksida meledak di Danau Nyos.

Diperkirakan 100-300 ribu ton CO2 dilepaskan ke udara hanya dalam beberapa menit, bahkan beberapa laporan mencatat ada total 1,6 juta ton. Gas ini menggantikan oksigen di udara, tetapi tak ada yang menyadari karena sifatnya tidak berbau dan tidak berwarna.

Seperti mimpi buruk di malam hari, awan beracun itu diam-diam merayap ke beberapa desa sekitar termasuk melewati Nyos, Subum, dan Cha.

Malam itu, penduduk desa sudah banyak yang tertidur, mereka bahkan tak tahu kalau udara yang mereka hirup saat itu adalah gas beracun.

Tragisnya, banyak dari mereka yang sekarat di tempat tidur dan pergi dalam diam. Keesokan paginya, ditemukan 1.746 penduduk sudah tak bernyawa, dengan ribuan hewan ternak yang juga mati. Sementara sisanya yang selamat dari bencana ini, diyakini mengalami gangguan pernapasan dan penyakit jangka panjang.

Setelah peristiwa tragis yang menggemparkan dunia ini, para ilmuwan dengan cepat mencari cara untuk mencegah potensi serupa di kemudian hari. Akhirnya pada tahun 2001 ditemukan solusi, yaitu memasang pipa degassing terkontrol (pipa vertikal panjang) di jantung Danau Nyos.

Pipa ini bekerja untuk melepaskan karbon dioksida secara bertahap dalam jumlah aman. Dengan cara ini, jauh di bawah sana gas karbon dioksida tidak menumpuk lagi seperti bom waktu.

Hari ini, Danau Nyos lebih seimbang mengandung air dan karbon dioksida, sistem peringatan dini juga ditambahkan untuk membantu mengurangi risiko terulangnya tragedi tersebut.

Kehidupan dilanjutkan, orang-orang mulai merasa aman untuk mendekati Danau Nyos lagi. Namun bencana itu mengubah cara pandang terhadap berbahayanya danau dengan gas jenuh. Danau vulkanik lain yang serupa seperti Danau Kivu di Afrika juga akhirnya mendapat pencegahan yang sama.

(ana/wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |