China Bangun London dan Paris 'KW', Kini Nasibnya Jadi Kota Hantu

2 hours ago 6

CNN Indonesia

Sabtu, 28 Mar 2026 16:40 WIB

Pemerintah China baru-baru ini menyatakan bahwa kota-kota replika ini "bertentangan dengan nilai-nilai inti Sosialis". Tianducheng di China, kota yang terdapat replika Menara Eiffel. (AFP/STR)

Jakarta, CNN Indonesia --

Di pinggiran kota Hangzhou, China bagian timur, warga tidak perlu naik pesawat untuk melihat Menara Eiffel. Ikon kebanggaan Prancis itu berdiri tegak tepat di lingkungan mereka, namun dalam versi yang berbeda.

Kawasan ini bernama Tianducheng atau "Kota Langit", sebuah proyek real estat yang meniru persis gaya arsitektur "Kota Cahaya" Paris. Di sini, terdapat replika Menara Eiffel dengan tinggi sepertiga dari aslinya. Meski megah dari jauh, realitanya justru kontras.

Berbeda dengan Paris yang asli, di Tianducheng jemuran baju terlihat bergelantungan di mana-mana, bahkan di dahan pohon. Air mancur mengering, banyak apartemen kosong, dan hanya sedikit toko yang beroperasi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tinggal di sini karena murah. Di Hangzhou, harga di sini sangat, sangat murah," ujar Rachel Ni, warga setempat kepada ABC News. Bagi Ni, pemandangan Menara Eiffel palsu itu justru memalukan. "Tidak ada orang yang menganggap ini keren. Ini palsu, bukan yang asli," imbuhnya.

Fenomena ini disebut oleh penulis Bianca Bosker sebagai "Duplitecture". Menurutnya, antusiasme meniru arsitektur ini muncul saat ekonomi China melonjak pada awal 1990-an. Memiliki rumah bergaya Barat dianggap sebagai simbol kesuksesan dan kekayaan.

Beberapa contoh "duplitecture" mencolok lainnya di China di antaranya,

- Suzhou: Memiliki puluhan jembatan replika, termasuk jembatan Pont Alexandre III dari Paris dan kloning Tower Bridge London yang dimodifikasi menjadi empat menara.

- Pinggiran Beijing: Terdapat replika kota Jackson Hole, Wyoming, lengkap dengan koboi, gereja, hingga papan jalan Route 66. Rumah-rumah di sini laku keras dengan harga mencapai US$2 juta (sekitar Rp31,5 miliar).

- Pinggiran Shanghai: Berdiri Thames Town yang meniru London. Lengkap dengan arsitektur gaya Tudor, patung Harry Potter, Winston Churchill, hingga bilik telepon merah ikonik Inggris.

Meski beberapa kawasan seperti replika Jackson Hole sukses secara komersial, banyak proyek lain yang berakhir menjadi "kota hantu". Thames Town, misalnya, kini lebih sering digunakan sebagai lokasi foto pre-wedding ketimbang kawasan hunian yang hidup.

"Ide 'bangun saja dulu, nanti orang akan datang' yang selama ini diandalkan pemerintah China tampaknya tidak lagi terbukti benar," kata Bosker.

Kini, tren membangun kota tiruan ini mulai mendapat hambatan dari otoritas pusat. Pemerintah China baru-baru ini menyatakan bahwa kota-kota replika ini "bertentangan dengan nilai-nilai inti Sosialis".

Pemerintah Negeri Tirai Bambu berencana untuk mengganti nama serta mengubah konsep kawasan-kawasan tersebut agar lebih mencerminkan identitas nasional.

(wiw)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |