Daftar Saham Kena Depak MSCI, Apa Saja?

3 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Morgan Stanley Capital International (MSCI) mendepak sejumlah saham emiten Indonesia dari daftar indeksnya per 30 Januari 2026.

Berdasarkan laman MSCI, dua saham Indonesia yang terdepak dari daftar indeksnya yakni PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO) dan PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES).

Kedua saham tersebut sebelumnya masuk dalam daftar Small Cap Indexes (SMID). Untuk kategori tersebut, MSCI menetapkan saham-saham dengan kapitalisasi pasar minimal US$141,5 juta.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Indeks MSCI Indonesia SMID Cap mencakup representasi perusahaan berkapitalisasi menengah dan kecil di pasar ekuitas Indonesia. Dengan 63 konstituen, indeks ini mencakup sekitar 28 persen dari kapitalisasi pasar yang disesuaikan dengan free float di Indonesia," tulis keterangan resmi MSCI yang dirilis Jumat (30/1).

Tak hanya itu, MSCI juga menurunkan status saham PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) dari kategori Global Standard Indexes menjadi SMID.

Berdasarkan laporan MSCI per 30 Januari 2026, kapitalisasi atau nilai pasar INDF tercatat US$1,78 miliar atau di bawah saham dengan kategori kapitalisasi besar yang bernilai minimal US$3,9 miliar.

Di sisi lain, MSCI memasukkan nama baru dalam daftar 10 saham Indonesia unggulan per 30 Januari 2026. Nama baru tersebut adalah PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) yang memiliki kapitalisasi pasar US$3,65 miliar.

Saham BRMS menggeser posisi PT Barito Pacific Tbk (BRPT) yang mana per 31 Desember 2025 tercatat memiliki kapitalisasi pasar US$4,6 miliar.

MSCI sebelumnya menetapkan sejumlah perubahan indeks review bagi saham Indonesia pada Februari. Pertama, pembekuan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS).

Kedua, pembekuan penambahan konstituen ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI). Ketiga pembekuan perpindahan naik antar-indeks segmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard.

Dalam pengumumannya, MSCI menyebut ketetapan ini dilakukan untuk mengurangi index turnover dan risiko kelayakan investasi (investability). Ketetapan ini juga sekaligus memberi waktu bagi otoritas pasar untuk menghadirkan perbaikan transparansi.

Apabila tidak ada perbaikan hingga Mei 2026, lembaga pemeringkat saham asal AS itu akan mengevaluasi kembali status akses pasar Indonesia.

Langkah ini dilakukan dengan memperhatikan penurunan bobot dalam Indeks Pasar Emerging MSCI untuk semua sekuritas Indonesia dan potensi reklasifikasi Indonesia dari status emerging market ke frontier market.

Merespons hal itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) melakukan beberapa pertemuan dengan MSCI secara daring. Terakhi, pertemuan dilakukan pada Rabu (11/2) lalu.

Pejabat sementara (Pjs) Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik mengatakan pembahasan berlangsung konstruktif. Namun, ia menegaskan detail maupun kesimpulan pertemuan tidak dapat diungkapkan ke publik karena bersifat rahasia.

"Pertemuan berlangsung secara konstruktif, seperti juga pertemuan-pertemuan sebelumnya. Kita membahas detail dari tiga rencana aksi yang sudah kita sampaikan sebelumnya," ujar Jeffrey dalam konferensi pers.

Tiga rencana aksi self regulatory organization (SRO) yang dipaparkan meliputi, pertama, peningkatan transparansi melalui pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen.

Kedua,penyajian data investor yang lebih granular dengan pengelompokan ke dalam 28 kategori, serta progres kenaikan batas minimal saham beredar di publik (free float) dari 7,5 persen menjadi 15 persen.

Ketiga, BEI juga berencana menerbitkan daftar saham yang terindikasi memiliki konsentrasi kepemilikan tinggi (shareholders concentration list). Skema tersebut disebut mengacu pada praktik yang telah diterapkan di Hong Kong Exchanges and Clearing (HKEX).

Berikut daftar 10 Saham Indonesia Teratas dalam Indeks MSCI per Januari 2026:

1. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan nilai pasar US$24,46 miliar
2. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar US$ 15,48 miliar
3. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan nilai pasar US$10,72 miliar
4. PT Telekom Indonesia Tbk (TLKM) dengan nilai US$10,62 miliar
5. PT Astra International Tbk (ASII) kapitalisasi pasar US$7,66 miliar
6.PT Amman Mineral INTL Tbk (AMMN) dengan kapitalisasi US$6,57 miliar
7.PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan nilai pasar US$5,91 miliar
8. PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dengan nilai US$4,08 miliar
9. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dengan nilai US$3,99 miliar
10. PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) dengan nilai US$3,65 miliar

[Gambas:Video CNN]

(sfr)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |