Jakarta, CNN Indonesia --
Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump berpotensi meningkatkan angka penyakit paru-paru serta kematian dini di Amerika Serikat.
Analisis yang dipublikasikan dalam jurnal American Journal of Respiratory and Critical Care Medicine itu menilai berbagai kebijakan selama masa jabatan kedua Trump di sepuluh sektor, mulai dari akses layanan kesehatan, regulasi lingkungan, perlindungan pekerja, hingga cakupan vaksinasi. Hasilnya menunjukkan kebijakan-kebijakan tersebut berpotensi memperburuk kesehatan pernapasan masyarakat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Para peneliti mengatakan bahwa kebijakan-kebijakan ini kemungkinan akan meningkatkan insiden penyakit paru-paru, memperburuk penyakit yang sudah ada, dan merusak perawatan bagi pasien yang sudah menderita, sehingga mengancam kesehatan paru-paru anak-anak dan orang dewasa.
Adam Gaffney, dokter paru dan profesor di Harvard Medical School yang memimpin laporan tersebut, memperingatkan bahwa secara keseluruhan, kebijakan-kebijakan itu merupakan serangan terhadap paru-paru warga Amerika yang dapat mengakibatkan jutaan orang meninggal secara prematur di tahun-tahun mendatang.
Laporan tersebut menyoroti beberapa masalah mendesak, salah satunya adalah pemotongan anggaran kesehatan yang tercantum dalam paket kebijakan pajak dan pengeluaran masa jabatan kedua Trump.
Dikenal sebagai One Big Beautiful Bill Act (OBBBA), paket tersebut memangkas lebih dari US$1 triliun (Rp16,9 kuadriliun) dari program-program kesehatan, menandai pemangkasan anggaran kesehatan federal terbesar dalam sejarah Amerika.
Analisis tersebut menyatakan bahwa pemotongan anggaran itu dapat mengancam akses perawatan bagi jutaan orang yang bergantung pada Medicaid, menurunkan tingkat vaksinasi untuk penyakit pernapasan, serta mengurangi akses ke perawatan darurat dan obat-obatan.
"Misalkan Anda memiliki seorang pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis yang kehilangan jaminan kesehatan, berhenti berkonsultasi ke dokter umum, berhenti menemui spesialis paru, dan tidak lagi memiliki dokter yang meresepkan inhaler untuknya," kata Gaffney, mengutip The Guardian, Jumat (13/3).
"Faktanya, pengobatan modern menyelamatkan nyawa, dan ketika Anda mencabutnya, hal itu justru membahayakan," lanjutnya.
Gedung Putih merespons penelitian tersebut dan membantah temuan Gaffney.
"Pemerintahan Trump tidak membahayakan akses layanan kesehatan bagi siapa pun," ujar juru bicara Gedung Putih Kush Desai.
Desai mengatakan bahwa OBBBA mencakup persyaratan kerja yang masuk akal, verifikasi kelayakan, dan reformasi lain untuk memangkas pemborosan, penipuan, dan penyalahgunaan dalam program Medicaid, yang akan memperkuat program tersebut bagi warga Amerika yang bergantung pada jaring pengaman vital ini.
Ia menambahkan bahwa pemerintah Trump justru sedang mendorong perombakan ambisius terhadap sistem perawatan kesehatan Amerika.
Selama setahun terakhir, pemerintahan Trump telah mencabut atau melemahkan puluhan standar polusi udara, termasuk yang mengatur batas emisi partikel halus, merkuri di udara, dan emisi knalpot.
Meskipun perubahan ini mungkin meningkatkan keuntungan bagi beberapa perusahaan, hal tersebut akan menyebabkan munculnya kasus asma baru dan peningkatan jumlah rawat inap akibat penyakit pernapasan, yang mengancam kesehatan paru-paru ratusan ribu orang, menurut studi tersebut.
"Di setiap kesempatan, pemerintahan ini lebih mengutamakan potensi keuntungan ekonomi para pencemar daripada udara bersih dan kesehatan pernapasan warga Amerika," tulis Mary B Rice, direktur Pusat Iklim, Kesehatan, dan Lingkungan Global di Harvard serta salah satu penulis studi tersebut.
Ancaman risiko di halaman berikutnya...
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
7

















































