Harga Minyak Jebol ke US$100 per Barel Tertinggi Sejak Juli 2022

6 hours ago 3

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak dunia melonjak sekitar 20 persen pada Senin (9/3) dan menyentuh level tertinggi sejak Juli 2022, seiring meluasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran yang mengganggu pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

Mengutip Reuters, harga minyak Brent tercatat naik US$15,24 atau 16,4 persen ke level US$107,93 per barel, setelah sebelumnya sempat melonjak hingga US$18,35 atau 19,8 persen menjadi US$111,04 per barel.

Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik US$16,50 atau 18,2 persen menjadi US$107,40 per barel setelah sebelumnya sempat menyentuh US$111,24 per barel.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sepanjang pekan lalu, Brent telah melonjak 27 persen sementara WTI naik 35,6 persen sebelum kenaikan terbaru pada awal pekan ini.

Lonjakan terjadi setelah sejumlah produsen minyak utama di Timur Tengah mulai memangkas produksi, sementara kekhawatiran juga meningkat terkait potensi gangguan berkepanjangan terhadap jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak global.

Irak dan Kuwait telah mulai mengurangi produksi minyak, menambah pemangkasan pasokan gas alam cair sebelumnya dari Qatar. Konflik yang berlangsung juga menghambat pengiriman energi dari kawasan tersebut.

Para analis memperkirakan Uni Emirat Arab dan Arab Saudi kemungkinan segera melakukan pemotongan produksi karena kapasitas penyimpanan minyak mereka hampir penuh.

Kondisi ini berpotensi membuat konsumen dan pelaku usaha di seluruh dunia menghadapi harga bahan bakar yang lebih tinggi selama beberapa pekan hingga berbulan-bulan, bahkan jika konflik yang baru berlangsung sepekan itu segera mereda. Gangguan fasilitas, logistik yang tersendat, serta risiko tinggi terhadap pengiriman disebut dapat memperpanjang tekanan harga.

Analis komoditas senior ANZ Daniel Hynes mengatakan kenaikan harga dipicu laporan bahwa produsen minyak Timur Tengah mulai mengurangi produksi karena fasilitas penyimpanan cepat penuh.

Ia memperingatkan harga bisa bertahan tinggi lebih lama jika produsen terpaksa menutup sumur minyak.

"Langkah itu bukan hanya semakin menekan output, tetapi juga memperlambat pemulihan produksi ketika konflik mereda," ujarnya.

Di Irak, produksi minyak dari ladang utama di wilayah selatan dilaporkan anjlok hingga 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari karena negara tersebut tidak dapat mengekspor minyak melalui Selat Hormuz akibat konflik dengan Iran.

Seorang pejabat Basra Oil Company mengatakan kapasitas penyimpanan minyak mentah di negara itu telah mencapai batas maksimum.

Sementara itu, Kuwait Petroleum Corporation mulai memangkas produksi sejak Sabtu dan menyatakan force majeure alias keadaan mendesak terhadap pengiriman minyak, meski tidak merinci jumlah produksi yang akan dihentikan.

Serangan Iran terhadap infrastruktur energi di kawasan juga terus berlanjut. Kantor Media Fujairah melaporkan kebakaran terjadi di zona industri minyak Fujairah di Uni Emirat Arab akibat jatuhan puing, namun tidak menimbulkan korban.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi juga menyatakan berhasil mencegat sebuah drone yang menuju ladang minyak Shaybah.

[Gambas:Video CNN]

(ldy/ins)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |