Harga Minyak Menanjak Imbas Trump Ultimatum Iran

5 hours ago 7

Jakarta, CNN Indonesia --

Harga minyak naik pada Senin (23/3) pagi setelah Presiden AS Donald Trump memberi Iran ultimatum 48 jam untuk membuka Selat Hormuz atau menghadapi kehancuran infrastruktur energinya, dan Israel memperingatkan perang masih akan berlanjut selama beberapa pekan lagi.

Dilansir AFP, tak lama setelah pembukaan pukul 22.00 GMT, harga West Texas Intermediate (WTI), patokan minyak mentah AS, untuk pengiriman Mei naik 1,8 persen menjadi sedikit di atas US$100 per barel, sebelum sedikit turun.

Harga minyak mentah Brent Laut Utara untuk pengiriman Mei naik dengan laju yang sama, menjadi US$113,44 per barel sebelum turun menjadi sekitar US$111 sekitar 45 menit setelah perdagangan dimulai.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sebagai pembanding, pada 27 Februari, sehari sebelum serangan AS-Israel dimulai terhadap Iran, harga minyak mentah tersebut masing-masing berada di level US$67,02 dan US$72,48 per barel.

Trump dan Teheran mengeluarkan ancaman balasan saat perang memasuki minggu keempatnya, dengan orang nomor satu AS itu menuntut Republik Islam membuka kembali Selat Hormuz yang diblokir, yang dilalui sekitar 20 persen pengiriman minyak dan gas dunia.

Kemacetan tersebut hampir menghentikan semua pengiriman minyak bumi melalui jalur air yang sempit itu, dan harga minyak telah melonjak.

Pada Sabtu malam, Trump melalui akun Truth Social mengunggah bahwa pasukan AS akan "menyerang dan menghancurkan" pembangkit listrik Iran -- "dimulai dengan yang terbesar terlebih dahulu" -- jika Teheran tidak sepenuhnya membuka kembali selat tersebut dalam waktu 48 jam, atau pukul 23:44 GMT pada Senin, menurut waktu unggahan.

Militer Iran tak tinggal diam dengan mengatakan akan menargetkan infrastruktur energi dan desalinasi "milik AS dan rezim di wilayah tersebut," menurut kantor berita Fars.

Sementara itu, Kepala Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir mengatakan bahwa pasukannya memperluas kampanye darat mereka melawan Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, dan memperingatkan akan adanya operasi yang panjang.

"Kami sekarang sedang bersiap untuk memajukan operasi darat dan serangan yang ditargetkan sesuai dengan rencana yang terorganisir," ujarnya pada Minggu kemarin.

Sebagai balasan atas operasi militer AS dan Israel, Iran melakukan serangan rudal dan drone terhadap infrastruktur-khususnya target energi-di negara-negara sekutu Washington, serta terhadap kapal-kapal di Teluk, khususnya yang memasuki Selat Hormuz.

[Gambas:Video CNN]

(sfr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |