Israel Babak Belur Dibom Iran, Tapi Ditutup-tutupi Rezim Zionis

2 hours ago 4

Jakarta, CNN Indonesia --

Israel disebut mengalami kerugian yang besar di tengah serangan gabungannya dengan Amerika Serikat ke Iran sejak 28 Februari lalu.

Meski mengeklaim berhasil membuat sejumlah situs strategis Iran hancur sampai membunuh pemimpin tertingginya, Ayatollah Ali Khamenei, Israel juga sama-sama mengalami kehilangan baik korban jiwa hingga biaya perang yang jumlahnya fantastis per harinya.


Beberapa hari setelah AS melancarkan operasi militer besar terhadap Iran, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak AS mulai menjadi sorotan dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dari sisi biaya rudal, Iran lebih hemat dibandingkan AS dan Israel. Iran selama ini mengandalkan drone Shahed 136.

Ternyata ini adalah drone yang cukup murah, satu unit Shahed 136 hanya berharga sekitar US$20.000 dolar atau berkisar Rp338 juta. Laman Scientific American menjelaskan bahwa harga Shahed 136 diperkirakan berada pada kisaran US$20.000-US$50.000 atau setara Rp338 juta hingga Rp845 juta.

Biaya yang mahal justeru ada pada rudal pencegatnya. Dampaknya, serangan besar-besaran Iran menguras sumber daya Israel dan Amerika Serikat. Sistem rudal pertahanan udara Arrow-3 berharga US$3 juta per unit atau mencapai angka Rp50 miliar.

Selain itu keteteran Israel juga terungkap oleh kesaksian jurnalis India, Praj Mohan Singh, yang baru-baru ini mengunjungi Israel. Ia mengatakan otoritas Israel membatasi peliputan mengenai serangan ke Iran.

Ia mengklaim jurnalis tidak diizinkan mengakses rumah sakit yang menampung jenazah atau merekam lokasi kehancuran. Singh menyebut beberapa rudal menghantam tanpa sirene peringatan, bertentangan dengan jaminan resmi pemerintah.

Sensor militer Israel juga disebut membatasi pelaporan mengenai lokasi serangan dan tingkat kerusakan.

Sejauh ini, Kementerian Kesehatan Israel menyatakan 13 orang tewas dan 1.929 lainnya terluka akibat serangan Iran sejak 28 Februari.

Dikutip Palestinian Chronicle, Singh yang baru kembali dari Israel menggambarkan ada pembatasan ketat terhadap peliputan media selama perang yang sedang berlangsung antara Iran dan Israel.

[Gambas:Video CNN]

Laporan Al Jazeera memaparkan Singh menuturkan otoritas Israel secara ketat mengontrol apa yang dapat didokumentasikan oleh wartawan terkait kerusakan akibat serangan rudal Iran.

"Pemerintah (Israel) tidak akan memberi tahu apa pun kepada Anda. Anda tidak bisa mengunjungi rumah sakit yang menampung jenazah, dan ketika sebuah insiden terjadi, kami bahkan tidak tahu di mana lokasinya," katanya.

Menurut Singh, otoritas Israel juga mencegah jurnalis merekam kerusakan yang disebabkan oleh serangan Iran.

Kesaksiannya beredar luas di media sosial, di mana sejumlah pengguna menyebutnya sebagai bukti ada sensor militer Israel yang ketat selama perang berlangsung.

[Gambas:Video CNN]

Rudal Iran menghantam tanpa peringatan

Singh juga menyebut ada perbedaan antara pernyataan resmi dan kondisi di lapangan. Ia mengatakan rudal Iran terkadang menghantam target tanpa sirene peringatan terlebih dahulu.

"Rudal Iran terkadang menghantam tanpa sirene peringatan," ujarnya.

Menurut Singh, beberapa warga sipil bahkan meninggal di dalam tempat perlindungan meskipun pemerintah Israel menjamin fasilitas tersebut aman. Ia juga mengatakan wartawan tidak diizinkan mendokumentasikan kerusakan akibat serangan rudal Iran.

Klaim tersebut memicu perdebatan di internet mengenai sejauh mana informasi tentang dampak serangan Iran benar-benar dipublikasikan.

Pernyataan jurnalis tersebut memicu diskusi luas di media sosial. Sebagian pengamat berpendapat Israel sengaja membatasi informasi mengenai kerusakan dan korban selama konflik untuk membentuk persepsi publik.

Sementara itu, pihak lain menilai langkah tersebut merupakan bagian dari strategi informasi masa perang untuk mengendalikan narasi domestik selama pertempuran berlangsung.

Perdebatan semakin menguat setelah muncul laporan bahwa NBC News menyiarkan rekaman rudal Iran yang menghantam Tel Aviv, namun lokasi pasti dan tingkat kerusakan tidak diungkapkan ke publik.

Pengamat menilai minimnya detail tersebut sejalan dengan aturan sensor militer Israel yang ketat dalam peliputan masa perang.

Sebelumnya, laporan Unit Open Source Al Jazeera menganalisis foto udara yang dipublikasikan oleh platform Israel yang tidak berada di bawah sensor militer. Analisis tersebut mengidentifikasi lokasi serangan rudal yang menghantam sebuah kompleks perumahan.

Menurut laporan itu, rudal tersebut langsung menghantam sebuah tempat perlindungan, menyebabkan kerusakan besar pada rumah-rumah di sekitarnya.

Media Israel juga memuat kesaksian warga di Beit Shemesh, yang menggambarkan betapa kuat serangan rudal Iran.

Beberapa warga mempertanyakan apakah sistem peringatan dini memberikan waktu yang cukup untuk mencapai ruang perlindungan.

Sementara militer Israel menyatakan peringatan telah diaktifkan, sejumlah saksi mengatakan warga tidak memiliki cukup waktu untuk mencapai tempat perlindungan sebelum rudal menghantam.

(rds)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |