Jumlah ATM RI Merosot Efek Pembayaran Digital Meningkat

5 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Jumlah mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) milik perbankan di Indonesia terus menurun seiring meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital.

Direktur Ekonomi Center of Economic and Law Studies (CELIOS) Nailul Huda menjelaskan hal itu juga berhubungan dengan pola konsumsi masyarakat yang berubah.

Menurut dia, masyarakat yang sebelumnya banyak melakukan transaksi melalui kantor cabang bank, mesin ATM, maupun layanan contact center kini mulai beralih ke layanan digital seperti online banking dan aplikasi mobile banking.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Huda kemudian menyebut terjadi penurunan jumlah kantor bank secara umum dan jumlah mesin ATM dalam rentang waktu 2018 hingga 2025.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan bahwaa 1.399 unit mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) tutup hanya dalam waktu setahun saja.

Berdasarkan Laporan Surveillance Perbankan Indonesia (LSPI) yang dirilis OJK, jumlah mesin ATM, CDM, dan CRM di Indonesia sampai kuartal III/2025 mencapai 89.774 unit, turun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 91.173 unit.

"Mungkin kalau dulu kita war tiket kereta lebaran ya itu jam 12 malam kita harus ke ATM untuk bayar tiketnya, itu sekarang tidak lagi karena ada online banking sama mobile apps. Ini menurunkan dari jumlah mesin ATM yang ada di Indonesia, yang beroperasi di Indonesia," kata Huda dalam acara Digital Banking & Economic Outlook 2026 di Jakarta Selatan, Selasa (10/3).

Seiring dengan penurunan penggunaan ATM, transaksi pembayaran digital pun meningkat signifikan.

CELIOS memproyeksikan nilai transaksi pembayaran digital dapat mencapai sekitar Rp4.212,64 triliun pada 2026.

Angka tersebut melonjak dibandingkan nilai transaksi pada 2024 yang tercatat sekitar Rp2.503,96 triliun.

Selain pembayaran digital, pinjaman daring atau pinjaman online juga diproyeksikan terus meningkat.

CELIOS memperkirakan pertumbuhan sektor tersebut pada 2026 masih akan berada di kisaran 10 persen meskipun melambat dibandingkan periode sebelumnya.

"Jadi kita lihat dari sisi pinjaman, tapi dari sisi akun tabungan bank digital pun itu juga masih akan mengalami kenaikan untuk di tahun 2026," ujar Huda.

Sektor pinjaman bank digital sempat mencatat pertumbuhan tertinggi pada 2022 dengan lonjakan mencapai 113,94 persen. Kemudian diikuti oleh tren kenaikan volume pinjaman yang terus konsisten.

Meskipun laju pertumbuhan persentasenya melandai ke angka 10,12 persen pada proyeksi 2026, angka nominal pinjaman terus bertambah.

Di sisi penghimpunan dana, tabungan di bank digital juga menunjukkan perkembangan signifikan.

Pertumbuhan tabungan sempat melonjak hingga 915,82 persen pada awal 2021 dan tetap stabil di kisaran dua digit dalam beberapa tahun berikutnya.

CELIOS juga mencatat peningkatan layanan digital didukung oleh pertumbuhan pengguna ponsel dan penetrasi internet di Indonesia.

Pertumbuhan pengguna ponsel meningkat signifikan antara 2015 hingga 2018.

Namun, setelah tahun 2018, tingkat pertumbuhan mulai melambat walaupun jumlah pengguna tetap tinggi dan stabil dari 2019 hingga 2023.

Penetrasi internet meningkat pesat dari 24,23 persen pada 2013 menjadi sekitar 73,70 persen pada periode 2019 hingga 2020 sebelum kemudian cenderung stagnan.

Di sisi lain, pengeluaran konsumsi internet masyarakat juga terus meningkat, dari sekitar Rp84.297,06 pada 2018 menjadi Rp146.188,50 pada 2023.

[Gambas:Video CNN]

(dhz/inn)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |