Kadin Blakblakan soal Dampak Besar Tarif Impor Trump ke Indonesia

19 hours ago 3

Kadin Blakblakan soal Dampak Besar Tarif Impor Trump ke Indonesia

Kadin Ungkap Dampak Tarif Impor AS pada Indonesia. (Foto: Okezone.com)

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia blakblakan soal dampak pengenaan tarif impor Presiden AS Donald Trump. Dampaknya mulai dari turunnya ekspor sampai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). 

Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie mengatakan, jika AS menindaklanjuti rencana tarif impor 32% untuk produk Indonesia dampak signifikan akan menimpa neraca pembayaran, khususnya  neraca perdagangan dan arus investasi.  AS merupakan pemasok valuta asing terbesar, yang menyumbang surplus perdagangan sebesar USD16,8 miliar pada tahun 2024. 

"Mitra dagang bilateral terbesar Indonesia pada tahun  2024 adalah AS yang memberikan surplus USD16,8 miliar kepada Indonesia. Hampir semua ekspor komoditas utama Indonesia ke AS meningkat pada tahun 2024. Sebagian besar barang Indonesia yang diekspor ke AS adalah produk manufaktur, yaitu peralatan listrik, alas kaki, pakaian, bukan komoditas mentah. Selama ini, produk Indonesia dikenakan tarif impor sekitar 10% di AS. Namun, faktanya, beberapa barang konsumsi sepenuhnya bebas bea masuk, karena Indonesia menikmati fasilitas preferensi sistem umum (GSP) yang diberikan oleh pemerintah AS kepada negara-negara berkembang," ujarnya, Jumat (4/4/2025). 

Untuk memperkuat neraca perdagangan pasca keputusan Trump, Kadin menyarankan supaya negosiasi perdagangan dilakukan lebih selektif. Fokus bisa di lakukan kepada industri padat karya terdampak secara vertikal, hulu hingga hilir.  

"Selain itu, Indonesia perlu membuka pasar baru selain Asia Pasifik dan ASEAN, yakni pasar  Asia Tengah, Turki dan Eropa, sampai Afrika dan Amerika Latin," ujarnya. 

Kadin juga melihat peluang Indonesia mempertahankan hubungan baik dengan AS sebagai mitra dagang. AS membutuhkan pasar peralatan pertahanan, pesawat terbang dan LNG. 

"Kita bisa menegosiasikan hal ini dengan produk ekspor andalan Indonesia," ujarnya. 

AS memberlakukan Inflation Reduction Act (IRA) atau UU Penurunan Inflasi yang bertujuan menurunkan inflasi di AS, mendorong transisi energi bersih melalui insentif besar-besaran terhadap kendaraan listrik (EV), energi terbarukan (solar, angin), dan industri  baterai dan semikonduktor. AS bisa memberikan subsidi terhadap impor produk olahan dari nikel dan mineral lainnya dari Indonesia sepanjang mineral itu diolah sesuai standar lingkungan dan ketenagakerjaan. 

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |