Angela Merici Keraf | CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2026 09:00 WIB
Ilustrasi. Soft living terasa sebagai pilihan hidup yang ideal, tapi sekaligus juga utopis. (CNN Indonesia/Adi Ibrahim)
Jakarta, CNN Indonesia --
Di media sosial, soft living terdengar seperti hidup yang ideal. Bangun tanpa tergesa, kerja tanpa merasa terus dikejar, pulang masih punya energi, lalu menikmati malam tanpa rasa bersalah karena tidak 'cukup produktif'.
Istilah ini biasanya datang dengan suasana yang serba tenang, pagi yang lengang, rutinitas yang tidak meledak-ledak, dan hidup yang tidak selalu diukur dari seberapa sibuk seseorang terlihat.
Setelah bertahun-tahun dijejali narasi hustle culture, soft living terasa seperti napas baru. Hidup yang lembut, lebih seimbang dan terdengar lebih manusiawi. Tapi, begitu layar ponsel dimatikan, realitanya tidak sesederhana itu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bagi banyak pekerja muda di Indonesia, hidup justru berjalan dengan ritme yang padat. Pagi berangkat kerja, malam belum tentu benar-benar selesai. Ada yang lembur, ada yang masih buka laptop lagi di rumah, ada yang cari proyek sampingan, ada juga yang menyambi jualan atau freelance supaya kebutuhan bulanan tetap tertutup. Pada titik itu, soft living terdengar menarik, tapi sekaligus terasa jauh.
Pertanyaannya lalu bukan cuma 'apa itu soft living', melainkan 'siapa yang benar-benar punya ruang untuk menjalaninya'.
Bukan sekadar tren hidup estetik
Soft living bisa dipahami sebagai cara hidup yang memprioritaskan ketenangan mental, rasa aman emosional, dan ritme yang lebih seimbang dibanding dorongan untuk terus produktif. Bukan berarti anti-kerja keras, konsep ini hanya tidak lagi menempatkan kerja sebagai satu-satunya pusat hidup.
Sosiolog dari Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sumatera Utara (USU), Rahman Malik melihat, soft living bukan sekadar tren gaya hidup yang sedang populer, melainkan respons atas tekanan sosial modern yang menuntut orang terus bergerak, terus kompetitif, dan terus terlihat berhasil.
"Kalau saya lebih melihat bahwa soft living itu bentuk resistensi dari gaya hidup yang menuntut kerja keras. Soft living itu respons terhadap tekanan sosial," kata Rahman kepada CNNIndonesia.com, Senin (13/4).
Menurutnya, soft living lahir dari keinginan untuk tidak terus hidup dalam tekanan harus sukses cepat, harus selalu produktif, dan harus terus mengejar sesuatu. Karena itu, konsep ini tidak bisa dibaca hanya sebagai pilihan pribadi, tapi juga sebagai gejala sosial.
Namun, di Indonesia, gagasan hidup lebih pelan itu justru berbenturan dengan kenyataan sehari-hari.
'Rasanya bukan soft living, tapi survival mode'
Khansa, 22 tahun, saat ini sedang magang sambil mencari peluang volunteer dan pekerjaan tambahan lain. Buat dia, soft living terdengar menarik, tapi sulit dibayangkan sebagai sesuatu yang realistis sekarang.
"Enggak, sih. Di ekonomi sekarang, rasanya susah banget. Banyak pekerjaan gajinya di bawah UMR, dan UMR pun buat satu orang saja belum tentu longgar, apalagi kalau masih harus mikirin banyak hal lainnya," katanya.
Ia merasa hidup pelan sulit dijalani bukan cuma karena uang, tapi juga karena tekanan untuk terus bergerak dan tidak tertinggal.
"Buat aku bukan cuma soal cari penghasilan. Ada tekanan cari pengalaman, cari peluang, dan takut ketinggalan. Apalagi banyak lowongan pakai batas umur, banyak yang sudah lebih dulu punya pengalaman, sementara kita masih nyari-nyari pijakan," curhatnya.
Karena itu, Khansa mengaku sering merasa harus mengambil banyak hal sekaligus. Magang, volunteer, cari pengalaman lain, bahkan membuka kemungkinan kerja sampingan bila perlu.
"Kadang bukan cuma buat uang, tapi juga buat CV. Takut kalau diam saja, nanti enggak punya apa-apa buat ditunjukin," tambahnya.
Suara yang mirip datang dari salah seorang pekerja swasta, Yesika (24). Baginya, istirahat di fase sekarang justru sering terasa seperti kemewahan.
"Jujur, di fase sekarang istirahat itu kayak kemewahan. Soalnya tiap ada waktu luang, otak otomatis mikir, 'sayang waktunya, mending dipakai cari cuan'," ujarnya.
Ia bercerita bahwa ritme kerjanya memang ketat. Deadline rapat, hasil kerja harus melewati review atasan, sementara jadwal atasan sendiri tidak selalu mudah dikejar. Akibatnya, waktu yang seharusnya bisa dipakai untuk istirahat sering malah berubah jadi waktu kerja tambahan.
"Daripada waktuku kupakai buat santai atau drakor-an, mending aku kerja dan dibayar. Agak materialistis sih, tapi memang sekarang mikirnya begitu," katanya sambil tertawa.
Menurut dia, tekanan untuk terus produktif justru lebih banyak datang dari diri sendiri.
"80 persen dari diri sendiri, jujur. Karena aku tahu apa yang aku mau, mau beli ini itu, dan aku sadar harganya mahal. Tuntutan kerja cuma faktor pendukung aja. Emang hukum alamnya, mau reward gede ya effort-nya harus jor-joran."
Dari dua cerita itu, terlihat bahwa banyak pekerja muda sebenarnya tidak menolak gagasan hidup yang lebih seimbang. Mereka justru menginginkannya. Hanya saja, hidup sekarang sering membuat keinginan itu terasa seperti kemewahan.
Simak ulasan soal kemewahan soft living di halaman berikutnya..
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
4

















































