Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) menyoroti beberapa sektor yang terancam oleh adanya perubahan iklim global yang semakin parah.
Riset kolaboratif yang bisa membantu pengambilan kebijakan didorong untuk bisa membantu mengurangi dampak dari perubahan iklim tersebut.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perubahan iklim adalah ancaman langsung terhadap sistem pangan, mata pencaharian, dan ketahanan ekonomi bangsa. Riset-riset yang kita dukung berupaya memastikan roda ekonomi tetap berputar dan beradaptasi," ujar Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan, Fauzan Adziman dalam acara Knowledege & Innovation Exchange (KIE) Jakarta Summit di Jakarta Pusat, Selasa (28/4).
Acara KIE Summit digelar oleh KONEKSI, sebuah inisiatif kolaboratif Australia-Indonesia di sektor pengetahuan dan inovasi. Tahun ini, acara memasuki tonggak penting dengan 38 proyek penelitian Lingkungan Hidup dan Perubahan Iklim (ECC) yang telah mencapai tahap matang dan siap diadopsi oleh pemangku kepentingan, pelaku bisnis, dan masyarakat melalui kebijakan serta implementasi yang dapat dikembangkan dalam skala lebih besar.
Fauzan menyebut 38 riset dengan tema besar lingkungan hidup dan perubahan iklim tersebut tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan membentuk sebuah ekosistem solusi.
Ia mencontohkan riset yang dibiayai dan dibangun kolaborasi tim dari Indonesia dan Australia di bidang sistem pangan dan ketahanan iklim yang berjudul Building a Sustainable Future yang mengembangkan varietas padi bernutrisi dan tangguh iklim.
"Inovasi teknologi genetik ini krusial untuk memastikan ketahanan pangan yang bermuara pada stabilitas ekonomi nasional," tuturnya.
Ia juga memberi contoh bagaimana riset di sektor transisi energi seperti produksi garam bertenaga surya di Madura yang membuka peluang komersialisasi baru bagi masyarakat pesisir.
Ketika melihat aspek sosial, Fauzan menyebut dampak perubahan iklim tidak dirasakan merata. Menurutnya, kelompok rentan menanggung beban paling berat dari masalah ini.
Ia lantas menyinggung riset bertema Climate Resilient Primary Healthcare hasil kolaborasi Australia National University dengan peneliti dari Universitas Udayana yang dinilai sangat bermanfaat.
Lebih lanjut, Fauzan mengatakan salah satu tujuan inisiatif KONEKSI adalah dampak pada aspek linkgungan, mulai dari keanekaragaman hayati, mengamankan ketersediaan air, hingga mengelola risiko bencana secara terintegrasi.
Di sektor ini, ia menyoroti riset berjudul "Tide Eye - AI/IoT-powered Airborne System for Monitoring Water Level and Tidal Floods in North Coast of Central Java" hasil kerja sama peneliti dari University of Wollongong (UOW) dan Telkom University (Tel-U).
"Mari kita wujudkan riset yang membumi, riset yang menginspirasi perubahan, dan riset yang membekali Indonesia menuju masa depan yang tangguh secara iklim, sejahtera secara ekonomi, berkeadilan sosial, dan melestari secara lingkungan," pungkasnya.
(lom/dmi)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































