Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menggelontorkan anggaran sebesar Rp252 miliar untuk menjalankan Pelatihan Vokasi Nasional 2026. Targetnya, sebanyak 70 ribu orang yang akan mengikuti program ini.
Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli mengatakan pelatihan vokasi ini akan dilakukan sebanyak tiga tahapan. Tahap pertama menyasar 20 ribu orang yang merupakan lulusan sekolah menengah tinggi.
Untuk pendaftaran Pelatihan Vokasi Nasional tahap satu ini telah dimulai sejak 23 Februari sampai 6 Maret 2026.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Batch 1 sebanyak 20 ribu orang khusus untuk lulusan SMA, SMK dalam 3 tahun terakhir. Batch 1 sedang kita buka. Teman-teman nanti bisa lihat lebih detail di web Kementerian Ketenagakerjaan. Dan disitu juga ada fasilitas-fasilitas dan seterusnya," ujar Yassierli dalam konferensi pers di kantornya, Jumat (27/2).
Anggaran pelatihan untuk satu orang peserta ditetapkan sebesar Rp3,6 juta, yang terdiri dari biaya pelatihan, uang makan dan uang transport Rp20 ribu per hari. Apabila nantinya program berjalan lancar, maka jumlah anggarannya bisa bertambah.
"Uang sakunya Rp20 ribu per hari ya. Kita sudah punya anggaran APBN untuk 70.000 orang dan salah satu alasan kami mengundang Pak Menko, beliau tadi juga ingin melihat kesiapan kita. Dan kalau nanti hasil evaluasi batch I 20 ribu orang antusiasmenya itu bagus, kita tentu berharap jumlahnya tidak hanya 70 ribu orang. Tapi 70 ribu orang itu sudah ada anggaran dari APBN," jelasnya.
Menteri Koordinator Bidang Pereknomian Airlangga Hartarto yang turut hadir dalam peluncuran berharap program vokasi ini bisa membantu para siswa meningkatkan kompetensi dan skill nya sehingga siap untuk masuk dunia kerja.
"Program ini mengedepankan link and match kurikulum pelatihan yang kuat dan dekat dengan dunia usaha ataupun industri dan diharapkan lulusan bisa langsung sesuai dengan tuntutan pasar kerja," kata Airlangga.
Airlangga menyebutkan program ini awalnya dibentuk karena melihat masih minimnya pekerja lulusan sekolah tinggi yang masuk ke bursa kerja. Dari total 148 juta pekerja nasional, lulusan SMA hanya berkontribusi 31,05 juta saja atau 20 persen.
Begitu juga dengan lulusan SMK yang berkontribusi hanya 20,8 juta atau 14 persennya. Karenanya, pemerintah menilai program pelatihan vokasi sangat penting untuk mendorong kontribusi lulusan SMA-SMK di bursa kerja.
"Dengan program ini, selain upskilling dan reskilling peserta akan mendapatkan benefit berupa bantuan transport, iuran JKK (Jaminan Keselamatan Kerja) dan JKM (Jaminan Kematian) serta saat lulus akan mendapatkan sertifikasi yang kompeten kompetensinya berbasis BNSP," pungkasnya.
(ldy/pta)

3 hours ago
2
















































