Jakarta, CNN Indonesia --
Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali mendorong investor global mencari aset lindung nilai (safe haven). Beragam instrumen investasi seperti dolar AS, emas, hingga obligasi pemerintah bisa menjadi pilihan.
Menariknya, pergerakan sejumlah aset kali ini justru tidak sepenuhnya mengikuti pola klasik saat krisis. Melansir Reuters, pasar menunjukkan respons beragam terkait kondisi yang tengah terjadi di Timur Tengah.
Sebagian aset tercatat menguat signifikan, sementara lainnya justru melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan volatilitas pasar.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dolar Menguat
Dolar AS menjadi salah satu aset yang mencatatkan penguatan paling menonjol pekan ini. Indeks dolar (DXY), yang mengukur kinerja mata uang AS terhadap enam mata uang utama dunia, naik sekitar 1,5 persen.
Dolar bahkan menguat terhadap dua mata uang yang biasanya menjadi safe haven, yakni franc Swiss dan yen Jepang. Kenaikan ini terjadi meskipun dolar sempat melemah pada periode gejolak pasar sebelumnya.
Head of FX Strategy Morgan Stanley James Lord mengatakan dolar memang memiliki karakteristik aset aman, tetapi perannya sangat bergantung pada kondisi global.
"Dolar memang memiliki beberapa karakteristik sebagai aset lindung nilai, tetapi hal itu sangat bergantung pada konteks situasi," ujar Lord.
Menurutnya, ketidakpastian kebijakan di Amerika Serikat juga dapat mengurangi daya tarik dolar sebagai tempat berlindung investor dalam jangka panjang.
Selain itu, posisi AS sebagai eksportir energi juga memberi dukungan bagi dolar ketika harga minyak naik. Krisis Timur Tengah mendorong harga minyak Brent melampaui US$80 per barel, yang cenderung menguntungkan ekonomi AS.
Obligasi Kurang Diminati
Berbeda dengan dolar, obligasi pemerintah tidak menerima arus masuk dana sebesar yang biasanya terjadi saat krisis geopolitik.
Pergerakan obligasi saat ini lebih dipengaruhi ekspektasi inflasi dan kondisi fiskal negara. Imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 10 tahun, yang menjadi acuan di kawasan Eropa, naik sekitar 14 basis poin sepanjang pekan ini.
Kenaikan yield menunjukkan harga obligasi turun, menandakan investor tidak banyak berburu aset tersebut sebagai safe haven.
Head of Fixed Income Rathbones Bryn Jones mengatakan kekhawatiran terhadap peningkatan utang pemerintah turut mengurangi daya tarik obligasi.
"Jerman memang sering menjadi tujuan investasi saat investor mencari aset berkualitas, tetapi jika pemerintahnya meningkatkan utang, investor juga menjadi lebih berhati-hati untuk masuk ke obligasi jangka panjang," kata Jones.
Emas Tetap Dipandang Aman
Di tengah volatilitas pasar, emas masih mempertahankan reputasinya sebagai aset lindung nilai utama. Harga logam mulia tersebut telah melonjak sekitar 240 persen sepanjang dekade ini.
Meski sempat turun tajam pada awal pekan, analis menilai penurunan itu dipicu aksi jual investor yang membutuhkan likuiditas setelah mengalami kerugian di aset lain.
State Street menyebut emas masih relatif kurang dimiliki dalam portofolio global. Alokasi emas di reksa dana global masih berada di bawah 1 persen dari total aset, jauh di bawah kisaran alokasi strategis 5 hingga 10 persen.
Head of Gold Strategy State Street Investment Management Aakash Doshi bahkan memproyeksikan harga emas berpotensi naik lebih tinggi tahun ini.
"Dalam skenario dasar kami, peluang harga emas mencapai US$6.000 tahun ini lebih besar dibanding turun ke US$4.000. Saat ini harganya sudah berada sedikit di atas US$5.000," ujar Doshi.
Yen dan Franc Melemah
Sementara itu, dua mata uang safe haven klasik lainnya justru melemah. Franc Swiss turun sekitar 1,2 persen, sedangkan yen Jepang melemah 0,8 persen sepanjang pekan ini.
Chief Investment Officer St. James's Place Justin Onuekwusi menilai yen masih memiliki potensi sebagai pelindung nilai jika volatilitas pasar terus meningkat.
"Dari sisi valuasi, yen Jepang masih terlihat cukup menarik dan berpotensi memberikan perlindungan di kondisi pasar seperti sekarang," kata dia.
Namun, prospek yen juga dibayangi ketidakpastian politik di Jepang setelah muncul laporan keraguan pemerintah terhadap kenaikan suku bunga lebih lanjut.
Di sisi lain, analis Goldman Sachs Teresa Alves memperingatkan potensi intervensi bank sentral Swiss dapat membatasi penguatan franc.
"Risiko intervensi dari bank sentral Swiss yang masih tinggi kemungkinan akan mengurangi daya tarik franc sebagai aset lindung nilai dalam situasi guncangan saat ini," ujarnya.
Saham Defensif Tak Banyak Membantu
Sementara itu, saham sektor defensif yang biasanya menjadi pelindung saat pasar bergejolak juga tidak banyak membantu kali ini.
Di AS, sektor utilitas pada indeks S&P turun sekitar 1 persen pekan ini, sementara sektor consumer staples melemah 2,8 persen, ketika indeks S&P 500 relatif stagnan. Di Eropa, saham utilitas turun 3 persen dan consumer staples merosot 4,5 persen, lebih dalam dibanding penurunan indeks STOXX 600 sekitar 3 persen.
Portfolio Manager Templeton Global Investments James Bristow mengatakan investor kini perlu lebih disiplin dalam memilih saham defensif di tengah suku bunga yang masih tinggi.
"Ketika berinvestasi di sektor yang secara klasik dianggap defensif pada level suku bunga seperti sekarang, investor harus jauh lebih disiplin dalam melihat harga relatifnya," ujarnya.
(lau/ins)

7 hours ago
5















































