Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah pihak menduga tambahan anggaran sebesar US$200 miliar atau sekitar Rp3.300 triliun yang diminta Kementerian Pertahanan (Kemhan) Amerika Serikat (AS) untuk membiayai perang melawan Iran selama beberapa bulan ke depan.
Menurut media bisnis dan ekonomi Fortune, dana tambahan yang diminta Menteri Pertahanan (Menhan) Pete Hegseth tampaknya untuk membiayai perang selama 140-145 hari.
Perkiraan ini diambil berdasarkan kajian lembaga Center for Strategic and International Studies (CSIS) bahwa dalam 12 hari pertama perang, AS sudah menghabiskan US$16,5 miliar atau sekitar Rp279 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam konferensi pers pada Kamis (19/3), Hegseth mengatakan anggaran tambahan yang diminta kementeriannya kemungkinan masih bisa berubah. Ia beralasan uang tersebut dibutuhkan guna memastikan militer memiliki amunisi lebih dari cukup "untuk membunuh orang jahat".
"Mengenai angka US$200 miliar, saya kira angka itu bisa berubah. Tentu saja butuh uang untuk membunuh orang jahat," ujar Hegseth pada Kamis (19/3), seperti dikutip Al Jazeera.
CSIS sebelum ini memperkirakan bahwa dalam 100 jam pertama konflik, AS sudah menghabiskan US$3,7 miliar atau sekitar Rp62,6 triliun.
Dana ini di luar persiapan militer Pentagon sebelum serangan, yang diperkirakan menelan biaya hingga US$630 juta (sekitar Rp10,6 triliun).
Jika anggaran tambahan US$200 miliar disetujui, artinya perang bisa berlanjut sampai 145 hari lagi atau hingga pertengahan Agustus. Satu harinya diperkirakan menelan biaya sekitar US$1,38 miliar (sekitar Rp23 triliun).
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump sejauh ini belum secara resmi meminta dana dari Kongres.
Sejumlah anggota parlemen sendiri, termasuk Republikan, menolak mengeluarkan anggaran lagi karena tak ingin perang yang sudah mengakibatkan krisis energi global ini menjadi tak terkendali.
Meski begitu, Ketua DPR AS Mike Johnson telah mengisyaratkan siap untuk mendukung proposal penambahan anggaran Pentagon.
"Saya mendukung apa yang diperlukan untuk memastikan bahwa rakyat Amerika tetap aman," ujar Johnson.
(blq/sfr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































