PBB: Waktu untuk Selamatkan Korban Gempa Dahsyat Myanmar Kian Tipis

1 day ago 5

CNN Indonesia

Rabu, 02 Apr 2025 11:32 WIB

PBB mengingatkan peluang untuk menemukan korban selamat gempa Myanmar akan segera tertutup. PBB mengingatkan peluang untuk menemukan korban selamat di rereuntuhan gempa Myanmar akan segera tertutup. (REUTERS/Stringer)

Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok bantuan kemanusiaan di Myanmar, termasuk dari PBB, mengungkapkan kehancuran dan keputusasaan yang terjadi di Myanmar akibat gempa bumi yang menewaskan lebih dari 2.700 orang.

Berbagai lembaga juga menekankan kebutuhan mendesak akan makanan, air, dan tempat berlindung serta mengingatkan peluang untuk menemukan korban selamat akan segera tertutup.

Julia Rees dari badan anak-anak PBB Unicef, yang baru saja kembali dari salah satu daerah yang paling parah terkena dampak di dekat episentrum di Myanmar tengah, mengatakan seluruh masyarakat terkena dampak kehancuran serta ada trauma psikologis sangat besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun, krisis ini masih berlangsung. Getaran masih terus terjadi. Operasi pencarian dan penyelamatan masih berlangsung. Mayat-mayat masih dievakuasi dari reruntuhan," katanya dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Reuters.

"Saya tegaskan: kebutuhannya sangat besar, dan terus meningkat setiap jam. Waktu untuk tanggap darurat penyelamatan jiwa semakin menipis."

Penguasa militer Myanmar Min Aung Hlaing dalam pidato yang disiarkan televisi mengatakan jumlah korban tewas akibat gempa berkekuatan 7,7 skala Richter pada tanggal 28 Maret diperkirakan akan melampaui 3.000.

Pada 1 April, jumlah korban tewas yang terkonfirmasi mencapai 2.719 dengan 4.521 orang terluka, dan 441 orang hilang.

Gempa bumi, yang terjadi sekitar jam makan siang pada tanggal 28 Maret, adalah yang terkuat yang melanda negara Asia Tenggara tersebut dalam lebih dari satu abad.

Gempa merobohkan pagoda kuno dan bangunan modern, serta menghantam kota kedua Myanmar, Mandalay, serta Naypyitaw, ibu kota yang dibangun khusus oleh junta sebelumnya untuk menjadi benteng yang tidak dapat ditembus.

Badan-badan PBB mengatakan rumah sakit kewalahan dan upaya penyelamatan terhambat oleh kerusakan infrastruktur dan perang saudara di negara itu.

Pemberontak menuduh militer melakukan serangan udara bahkan setelah gempa, dan pada tanggal 1 April aliansi pemberontak mengumumkan gencatan senjata sepihak untuk membantu upaya bantuan.

Kelompok-kelompok bantuan menyuarakan peringatan atas kurangnya makanan, air, dan sanitasi. 

(reuters/vws)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |