CNN Indonesia
Jumat, 05 Jun 2026 23:00 WIB
Ilustrasi. PCOS kini diganti penyebutannya menjadi PMOS. (iStockphoto)
Jakarta, CNN Indonesia --
Selama ini, PCOS kerap dipahami sebagai penyakit yang berkaitan dengan kista ovarium. Padahal, tidak semua penyandang PCOS memiliki kista, dan gangguan yang terjadi juga tidak hanya terbatas pada ovarium.
Dalam jurnal The Lancet pada 2026, istilah Polycystic Ovary Syndrome (PCOS) resmi diubah menjadi Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome (PMOS). Dalam bahasa Indonesia, istilah ini dapat dipahami sebagai Sindrom Ovarium Metabolik Poliendokrin.
Perubahan nama tersebut dilakukan untuk menegaskan bahwa kondisi ini melibatkan banyak sistem tubuh, mulai dari hormon, metabolisme, fungsi ovarium, hingga risiko kesehatan jangka panjang.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lalu, apa makna di balik perubahan nama PCOS menjadi PMOS?
1. PCOS tidak selalu berarti ada kista
Selama ini, nama PCOS membuat banyak orang mengira kondisi ini pasti ditandai dengan kista ovarium. Padahal, pada pemeriksaan USG yang sering terlihat bukanlah kista dalam pengertian umum, melainkan kumpulan folikel kecil yang belum matang.
Jurnal The Lancet menyebut istilah PCOS dinilai kurang tepat karena membuat perhatian terlalu terpusat pada ovarium. Akibatnya, aspek lain seperti gangguan hormon dan metabolisme kerap terabaikan.
2. Masalahnya bukan hanya soal reproduksi
PMOS tidak hanya berkaitan dengan haid yang tidak teratur atau gangguan kesuburan. Kondisi ini juga berhubungan dengan sistem hormon, metabolisme, kesehatan kulit, berat badan, hingga kesehatan mental.
Mengutip Endocrine Society, PMOS ditandai oleh perubahan hormonal yang dapat memengaruhi berat badan, kesehatan metabolik dan mental, kondisi kulit, serta sistem reproduksi. Karena itu, penanganannya perlu dilakukan secara menyeluruh, bukan hanya berfokus pada ovarium.
3. Banyak pasien bisa terlambat didiagnosis
Istilah PCOS juga dinilai dapat membuat sebagian pasien terlambat mendapatkan diagnosis. Sebab, keluhan mereka bisa saja diabaikan ketika pemeriksaan tidak menemukan kista ovarium.
Padahal, seseorang tetap dapat mengalami gejala seperti haid tidak teratur, jerawat berat, rambut rontok, pertumbuhan rambut berlebih, resistensi insulin, kenaikan berat badan, atau gangguan kesuburan tanpa memiliki kista ovarium yang jelas.
4. PMOS dapat berdampak jangka panjang
Perubahan nama ini juga menegaskan bahwa PMOS bukan sekadar masalah kesuburan. Kondisi tersebut dapat berdampak sepanjang hidup dan memengaruhi kesehatan pada berbagai fase usia.
PMOS diketahui berkaitan dengan resistensi insulin, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, henti napas saat tidur (sleep apnea), perlemakan hati, hingga gangguan kesehatan mental. Karena itu, pemantauan kesehatan metabolik dan mental menjadi bagian penting dalam penanganannya.
5. Perubahan nama ini lahir dari konsensus global
Pergantian nama PCOS menjadi PMOS bukan keputusan sepihak. Prosesnya melibatkan 56 organisasi akademik, klinis, dan kelompok pasien, serta lebih dari 14.300 responden dari berbagai wilayah dunia.
Mengutip The Guardian, proses konsensus global tersebut berlangsung sekitar 14 tahun. Tujuannya bukan hanya mengganti nama, tetapi juga mengurangi stigma, memperbaiki proses diagnosis, dan mendorong perawatan yang lebih tepat bagi pasien.
Dengan nama baru ini, pasien diharapkan tidak lagi terjebak pada anggapan bahwa diagnosis hanya dapat ditegakkan jika terdapat kista ovarium. Keluhan seperti haid tidak teratur, jerawat berat, rambut rontok, pertumbuhan rambut berlebih, perubahan berat badan, hingga tanda-tanda resistensi insulin tetap perlu diperiksakan kepada tenaga medis untuk mendapatkan penanganan yang tepat.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
6

















































