Perang Iran vs AS-Israel Pecah, Seberapa Ngeri Dampaknya Tekan RI?

3 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran membuka babak baru ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Bagi Indonesia, konflik ini bukan sekadar isu luar negeri, melainkan juga berpotensi menimbulkan gelombang tekanan ekonomi yang nyata di dalam negeri.

Apalagi, Selat Hormuz yang menjadi jalur distribusi ekspor-impor, termasuk minyak, dari Timur Tengah resmi ditutup. Dengan demikian, ketegangan politik dan keamanan di kawasan akan makin meningkat.

Harga minyak dunia sudah dipastikan bakal melonjak, bahkan sudah tembus US$80 per dolar AS. Pasar keuangan global juga akan ikut bergejolak sehingga bagi negara yang masih bergantung minyak impor seperti Indonesia, maka akan sangat berdampak pada harga energi dalam negeri.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution Ronny P Sasmita menilai perang tersebut mengandung dua jenis dampak bagi Indonesia, langsung dan tidak langsung. Dampak langsung sudah pasti kenaikan harga minyak. Sedangkan, dampak tidak langsung akan menjalar melalui pasar keuangan dan stabilitas makroekonomi.

"Yang paling cepat terasa adalah kanal harga energi. Jika eskalasi mengganggu distribusi di Selat Hormuz, pasar minyak akan bereaksi dalam hitungan jam, bukan minggu," ujar Ronny kepada CNNIndonesia.com.

Selat Hormuz selama ini menjadi jalur vital distribusi energi global. Gangguan sekecil apa pun di kawasan itu dapat memicu lonjakan harga minyak dunia secara instan. Dalam konteks ini, Indonesia sebagai negara net importer minyak berada pada posisi rentan.

Kenaikan harga minyak mentah otomatis meningkatkan biaya impor energi. Dampaknya berlapis, mulai dari subsidi energi berpotensi membengkak, defisit transaksi berjalan melebar, dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin kuat.

"Indonesia sebagai net importer minyak otomatis akan terpapar lewat kenaikan harga minyak mentah dunia, tekanan pada subsidi energi, dan potensi pelebaran defisit transaksi berjalan," imbuhnya.

Ronny menegaskan dampak langsung ini terutama terlihat dari kenaikan harga minyak dan perubahan sentimen pasar keuangan. Pasar bergerak berdasarkan ekspektasi, bukan menunggu dampak riil benar-benar terjadi.

Di sisi lain, Ronny mengingatkan efek tidak langsung juga tak bisa diabaikan. Ketika ketidakpastian geopolitik meningkat, investor global cenderung melakukan flight to safety. Modal mengalir ke aset yang dianggap aman seperti dolar AS dan obligasi pemerintah AS.

Akibatnya, dolar AS menguat dan imbal hasil US Treasury naik. Arus modal pun keluar dari negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Artinya, dampaknya tidak lagi terbatas pada harga minyak, tapi stabilitas makroekonomi ikut teruji.

"Rupiah tertekan, biaya utang naik, dan volatilitas pasar saham meningkat. Dalam konteks ini, dampaknya bukan sekadar harga minyak, tetapi stabilitas makro, mulai dari kurs, inflasi, dan pembiayaan APBN," jelas Ronny.

Ronny menjelaskan, transmisi dampak ke pasar keuangan bisa terjadi sangat cepat. Namun, efek ke sektor riil, seperti inflasi domestik, biasanya mulai terasa dalam rentang 1-3 bulan, tergantung respons kebijakan pemerintah.

"Apakah pemerintah menahan harga BBM lewat subsidi atau membiarkan penyesuaian bertahap. Jika harga energi global tinggi lebih dari satu kuartal, barulah kita melihat efek rambatan ke harga pangan, logistik, dan daya beli," terangnya.

Dalam jangka pendek, Ronny melihat tiga risiko signifikan. Pertama, tekanan inflasi impor dari energi dan bahan baku. Kedua, pelemahan rupiah yang memperberat beban utang valas korporasi. Ketiga, tekanan fiskal akibat subsidi yang membengkak.

Jika konflik bersifat terbatas dan cepat mereda, dampaknya bisa temporer. Namun jika berubah menjadi perang kawasan yang melibatkan jalur distribusi energi global, Indonesia harus bersiap pada skenario 'higher for longer' untuk harga minyak dan volatilitas pasar.

"Intinya, dampaknya bisa langsung sekaligus tidak langsung. Cepat di pasar, bertahap di sektor riil. Yang menentukan kedalaman masalah ini bukan hanya siapa yang menembak, tapi berapa lama konflik menyala. Dalam ekonomi global kian terintegrasi, percikan di Timur Tengah bisa menjadi api kecil di dompet rumah tangga kita," tegasnya.


Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |