PLN Blak-blakan soal Biang Kerok Blackout Sumatra

59 minutes ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

PT PLN (Persero) membeberkan penyebab listrik padam total (blackout) yang terjadi di wilayah Sumatra berhubungan dengan fenomena power swing atau osilasi tegangan tinggi pada Jumat (22/5) lalu.

Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra menjelaskan sistem kelistrikan utama di Sumatra ditopang oleh dua jalur utama, yakni jalur Timur sebesar 500 kV dan jalur Barat sebesar 275 kV. Ia menyebut gangguan terjadi ketika cuaca ekstrem mulai melanda wilayah Jambi.

"Di wilayah Jambi di daerah Muaro Jambi masuk juga dalam daftar waspada BMKG karena terjadinya kelembapan udara yang tinggi yang kemudian sering terjadi hujan lebat, petir, dan angin kencang di daerah tersebut," ujar Edwin dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta, Senin (25/5).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Edwin menyampaikan pada hari itu terjadi gangguan pada transmisi 275 kV New Aur Duri ke arah Sumsel 5 dan merupakan inputan menuju jalur 500 kV yang ada di bagian timur.

"Nah ini terjadi, kemudian kedua sirkuitnya trip sehingga jalur 500 kV keluar dari sistem. Ini diduga karena terjadi kondisi cuaca yang pada saat itu hujan dan angin kencang," terangnya.

Lebih lanjut, ia mengatakan saat aliran arus yang biasanya menuju di jalur timur tersebut menuju dari selatan ke utara itu putus, maka aliran itu berbalik ke selatan dan berpindah ke arah barat, ke arah 275 kV.

"Ketika osilasi tersebut sampai pada satu tahap teknikal tertentu, maka di jalur barat tadi, di jalur 275 kV tadi, itu juga perlu mengisolasikan diri agar jangan sampai power swing tadi itu menyebabkan gangguan yang lebih luas. Nah kemudian di titik tersebut, arah Muara Bungo ke Sungai Rumbai, dua sirkuit juga trip," sambungnya.

Edwin memaparkan terpisahnya jalur tersebut membuat sistem kelistrikan Sumatra terbelah menjadi dua. Wilayah selatan yang meliputi Lampung dan Palembang tetap normal karena mempunyai pasokan pembangkit yang cukup. Namun, wilayah utara yang meliputi Jambi hingga Aceh mengalami defisit pembangkit yang parah.

"Tetapi apa yang terjadi di daerah utara adalah di sana kekurangan dari pembangkit, frekuensinya rendah. Karena frekuensi rendah, pembangkit-pembangkit ada yang tidak tahan, kemudian trip, lalu terjadi domino effect. Trip satu," ujar Edwin.

"Kemudian pembangkit-pembangkit lain frekuensinya semakin turun, kemudian akhirnya pembangkit-pembangkit di bagian utara trip semua, sehingga pelanggan-pelanggan kami di Jambi, di Riau, Sumbar, Sumut, dan Aceh mengalami pemadaman," tambahnya.

Ia mengatakan proses pemulihan di masing-masing wilayah membutuhkan waktu yang berbeda-beda karena perbedaan jenis pembangkit.

Edwin menjelaskan pembangkit diesel dan gas (black start) menyala dalam kurun waktu 3-5 jam, sedangkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) membutuhkan waktu 20-30 jam agar bisa sinkron kembali dengan sistem.

"Insyaallah pada hari ini, pembangkit-pembangkit besar sudah masuk, seperti di Pangkalan Susu dan beberapa tempat lainnya sudah masuk. Insyaallah pada hari ini dan sore ini tidak ada terjadi lagi pemadaman di sistem Sumatra," ungkap Edwin.

[Gambas:Video CNN]

(tfq/fln)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |