Potensi Dampak Tarif Baru Donald Trump ke Indonesia

16 hours ago 2

Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menetapkan kebijakan tarif baru untuk semua impor ke AS pada Rabu (2/4) waktu setempat atau Kamis (3/4) pagi waktu Indonesia.

Pengumuman ini diikuti perilisan daftar tarif timbal balik yang akan dikenakan kepada 180 lebih negara dan wilayah, termasuk Indonesia. Menurut daftar itu, AS menetapkan tarif timbal balik sebesar 32 persen terhadap Indonesia dalam kebijakan baru tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kebijakan tarik timbal balik yang ditetapkan Trump itu pun berdampak pada perekonomian Indonesia.

Direktur Program Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eisha Maghfiruha Rachbini mengatakan penerapan tarif 32 persen pada produk ekspor Indonesia akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia ke AS secara signifikan, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan.

Kata dia, secara teori penerapan tarif itu akan menyebabkan terjadinya trade diversion dari pasar yang berbiaya rendah ke pasar yang berbiaya tinggi.

"Sehingga akan berdampak pada biaya yang tinggi bagi pelaku ekspor untuk komoditas unggulan, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furniture, dan produk pertanian, dampaknya adalah melambatnya produksi, dan lapangan pekerjaan," kata Eisha dalam keterangan tertulis, Kamis (3/4).

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi XI DPR, Hanif Dhakiri menyebut kebijakan Trump itu berpotensi terhadap kenaikan inflasi dan menurunnya daya beli masyarakat. Dampak itu belum termasuk pada potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meluas.

"Dampak tarif baru AS bisa meluas kalau tidak segera direspon memadai, seperti ekspor yang turun, PHK meningkat, inflasi naik, dan daya beli melemah," kata Hanif dalam keterangannya, Kamis.

Karenanya, ia meminta pemerintah segera mengambil langkah strategis. Terlebih saat ini, rupiah juga terus terkontraksi ke Rp16.675 per dolar, meski BI sudah intervensi dengan lebih dari US$4,5 miliar cadangan devisa.

"Strategi moneter sangat penting yang tepat sangat penting. Tapi kalau strategi fiskal dan sektor riil tak diperkuat, ekonomi kita bisa limbung," ujarnya.

Di sisi lain, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menyatakan kebijakan Trump tersebut bisa memicu resesi ekonomi pada kuartal IV 2025.

"Bisa picu resesi ekonomi Indonesia di kuartal IV 2025," kata Bhima di Jakarta, Kamis dikutip dari Antara.

Kata dia, dampak kenaikan tarif resiprokal yang diumumkan Presiden AS Donald Trump akan berdampak signifikan ke ekonomi Indonesia.

Bukan hanya akan berdampak pada kuantitas ekspor Indonesia ke AS, tapi juga bisa turut memberikan dampak negatif berkelanjutan ke volume ekspor ke negara lain.

[Gambas:Video CNN]

Menurutnya, sektor otomotif dan elektronik Indonesia bakal di ujung tanduk. Hal ini karena, konsumen AS menanggung tarif dengan harga pembelian kendaraan yang lebih mahal yang menyebabkan penjualan kendaraan bermotor turun di AS.

Selanjutnya dikarenakan adanya korelasi ekonomi Indonesia dan AS dengan persentase 1 persen penurunan pertumbuhan ekonomi AS maka ekonomi Indonesia turun 0,08 persen.

"Produsen otomotif Indonesia tidak semudah itu shifting ke pasar domestik, karena spesifikasi kendaraan dengan yang diekspor berbeda. Imbasnya layoff dan penurunan kapasitas produksi semua industri otomotif di dalam negeri," ujarnya.

Tak hanya sektor otomotif dan elektronik, industri padat karya seperti pakaian jadi dan tekstil diperkirakan bakal mengalami penurunan, mengingat banyak jenama global asal AS memiliki pangsa pasar besar di Indonesia.

"Begitu kena tarif yang lebih tinggi, brand itu akan turunkan jumlah order atau pemesanan ke pabrik Indonesia. Sementara di dalam negeri, kita bakal dibanjiri produk Vietnam, Kamboja dan China karena mereka incar pasar alternatif," tutur dia.

(dis/end)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |