
Presiden Prabowo Subianto mengkritik tajam konsep pertumbuhan ekonomi ala neoliberal. (Foto: Okezone.com/Setpres)
JAKARTA - Presiden Prabowo Subianto mengkritik tajam konsep pertumbuhan ekonomi ala neoliberal yang meyakini kekayaan di lapisan atas piramida ekonomi akan menetes secara alami ke masyarakat bawah. Menurutnya, pendekatan tersebut tidak sesuai dengan kondisi perekonomian Indonesia.
Dia menilai, Indonesia membutuhkan pendekatan pembangunan yang berbeda mengingat sejarah panjang penjajahan serta kondisi sosial yang masih memerlukan pemerataan secara cepat.
“Cara berpikir dan cara berpikir tentang bernegara, cara berpikir tentang pembangunan yang konvensional, yang normatif adalah membangun pertumbuhan, ya, dan ada pemikiran selama ini, ya, pemikiran neoliberal, biar yang kaya enggak apa-apa 0,1%. Lama-lama, menurut teori ini, karena pertumbuhan kekayaan menumpuk, enggak apa-apa menumpuk di atas, lama-lama akan menetes ke bawah,” ujar Prabowo saat memberikan sambutan dalam peresmian 166 Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Senin (12/1/2026).
Neoliberalisme sendiri merupakan paham ekonomi-politik yang menekankan mekanisme pasar bebas, deregulasi, privatisasi, serta pengurangan peran negara dalam aktivitas ekonomi. Ideologi ini berkembang sejak akhir abad ke-20 sebagai kelanjutan dari liberalisme klasik dan hingga kini masih menjadi perdebatan karena dampaknya terhadap perekonomian global dan kehidupan sosial masyarakat.
Prabowo menegaskan, teori tersebut tidak realistis jika diterapkan pada negara dengan jumlah penduduk besar seperti Indonesia.
“Nah ini teori. Tapi kenyataannya netesnya kapan sampai ke bawah? Jangan-jangan netesnya 300 tahun, kita sudah mati semua. Ini menurut saya tidak tepat,” tegasnya.
Ia menekankan bahwa pembangunan nasional harus berjalan seiring antara pertumbuhan dan pemerataan. Menurut Prabowo, keberhasilan pembangunan tidak bisa hanya diukur dari capaian angka-angka makroekonomi, melainkan dari seberapa besar manfaatnya dirasakan oleh masyarakat lapisan bawah.
“Pertumbuhan harus disertai oleh pemerataan, suatu sistem yang tidak cepat mengusahakan, mengupayakan pemerataan, sistem itu kurang bermanfaat bagi sebuah bangsa,” kata Prabowo.


















































