Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah terus mempercepat pengembangan energi terbarukan melalui proyek bioetanol di Provinsi Lampung yang kini memasuki tahap baru. Proyek strategis ini melibatkan perusahaan otomotif Jepang Toyota, PT Pertamina New & Renewable Energy (PNRE), serta Danantara Investment Management.
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu mengatakan pengembangan proyek sebenarnya telah berjalan sejak setahun terakhir, meski dilakukan secara tertutup. Saat ini PNRE sudah menjalin koordinasi dan akan menjadikan Toyota Tsuho dari Japanese Group sebagai mitra kerja.
"Dan akan didukung mitra teknologi lainnya dari Jepang seperti RaBIT (konsorsium riset beberapa perusahaan otomotif dan energi Jepang)," papar Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala BKPM Todotua Pasaribu usai memimpin pertemuan dengan CEO Toyota Motor Asia di Jakarta (20/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Todotua menjelaskan, Lampung dipilih sebagai lokasi awal pembangunan karena memiliki potensi bahan baku (feedstock) yang melimpah, seperti tebu, ubi, dan sorgum.
Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM telah melakukan pendampingan sejak akhir 2025, termasuk koordinasi lintas kementerian dan fasilitasi kerja sama dengan mitra teknologi dari Jepang.
Proyek pengembangan bioetanol yang tengah dijajaki bersama Toyota, PNRE, dan Danantara Investment Management ini dirancang dalam dua tahap.
Pada tahap awal atau pilot project, fasilitas ditargetkan memiliki kapasitas produksi 60 kiloliter per tahun pada kuartal III 2027. Selanjutnya, tahap komersial direncanakan mencapai kapasitas 60.000 kiloliter per tahun pada kuartal IV 2028.
Pengembangan proyek mengadopsi pendekatan multi-feedstock dengan memanfaatkan limbah biomassa, termasuk dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum. Teknologi generasi kedua (2G) akan digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas pasokan bahan baku sekaligus mendukung keberlanjutan jangka panjang.
Pengembangan ini juga mencakup budidaya sorgum secara bertahap, mulai dari pilot seluas 10 hektare pada 2026 hingga pengembangan komersial mencapai 6.000 hektare pada 2027. Proyek akan berlokasi di Lampung dengan dukungan lahan dari PTPN.
Di sisi kebijakan, pemerintah telah memperkuat komitmen melalui roadmap mandatori pencampuran bioetanol dalam bahan bakar, yaitu E5 pada 2026-2027, meningkat menjadi E10 pada 2028-2030, hingga menuju E20 dalam jangka panjang.
"Kita mendorong proyek ini dalam rangka untuk mempersiapkan komitmen roadmap mandatori menjadi E10, sehingga negara kita juga siap," ujar Todotua.
Todotua menambahkan, ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan bakar masih tinggi, mencapai sekitar 61% dalam satu dekade terakhir. Di sisi lain, volatilitas harga minyak dunia akibat dinamika geopolitik semakin mempertegas urgensi transisi energi.
Pengembangan proyek mengadopsi pendekatan multi-feedstock dengan memanfaatkan limbah biomassa, termasuk dari kelapa sawit, jagung, dan sorgum. Teknologi generasi kedua (2G) akan digunakan untuk meningkatkan fleksibilitas pasokan bahan baku sekaligus mendukung keberlanjutan jangka panjang.
Indonesia dinilai memiliki keunggulan komparatif kuat, antara lain cadangan nikel terbesar dunia (42%), serta posisi sebagai produsen utama kelapa sawit dan kelapa global yang berpotensi menjadi bahan baku bioenergi.
Pemerintah juga mengapresiasi keterlibatan Toyota dalam pengembangan industri baterai kendaraan listrik di Indonesia. Namun demikian, peluang kerja sama dinilai masih terbuka luas, khususnya pada pengembangan bioetanol berbasis multi bahan baku.
CEO Toyota Motor Asia Masahiko Maeda menyatakan pihaknya melihat peluang besar dalam pengembangan ekosistem bioenergi di Indonesia, termasuk penguatan rantai pasok lokal melalui kolaborasi strategis dengan mitra industri.
Menurutnya, kerja sama ini juga sejalan dengan strategi Multi-Pathway Toyota dalam mencapai target netralitas karbon, termasuk melalui pengembangan teknologi baterai dan energi alternatif.
"Kolaborasi ini akan memperkuat rantai pasok lokal yang kuat, mendukung pendekatan Multi-Pathway Toyota menuju netralitas karbon," ujarnya
Pertemuan ini menjadi bagian dari upaya berkelanjutan pemerintah dalam memperkuat kolaborasi internasional guna mendorong investasi berkualitas dan mempercepat transformasi ekonomi Indonesia berbasis hilirisasi dan energi berkelanjutan.
(ory/ory)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
3
















































