Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa tengah mengkaji pengenaan pajak durian runtuh alias windfall tax dari nikel.
Windfall tax adalah pajak tambahan yang dikenakan atas laba besar 'durian runtuh', yang muncul bukan karena kinerja perusahaan, misalnya karena harga komoditas meledak tinggi.
Purbaya menyebut windfall tax nikel tersebut masih dalam tahap pembahasan bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), termasuk besaran pajaknya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nanti ada (windfall tax), tapi itu masih didiskusikan dengan Menteri ESDM. Saya terima aja pokoknya duitnya," ujar Purbaya di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Senin (4/5) dikutip Detikfinance.
Menurut Purbaya, kebijakan windfall tax dapat meningkatkan penerimaan negara dan membantu menutup kenaikan beban subsidi dalam APBN.
Di sisi lain, pemerintah juga menyiapkan insentif terhadap produk-produk turunan nikel agar lebih berdaya saing.
"Nikel itu kan salah satu bahan baku baterai, kita akan dorong pertumbuhan industri baterai di sini juga dengan insentif... supaya ini juga laku," ucap Purbaya.
Selain windfall tax, Purbaya juga menyinggung wacana pengenaan bea keluar nikel dan batu bara. Kebijakan ini tidak hanya bertujuan menambah penerimaan, tetapi juga memperkuat pengawasan ekspor.
Purbaya menilai lemahnya kebijakan bea keluar menyebabkan Ditjen Bea Cukai kesulitan mengontrol praktik under-invoicing dan ekspor ilegal. Dengan adanya bea keluar, proses pemeriksaan oleh bea cukai dapat dilakukan sebelum barang dikirim ke luar negeri.
"Selama ini kalau ekspor batu bara, karena pajaknya nol, enggak ada bea keluar, Bea Cukai enggak bisa periksa sebelum barangnya berangkat. Jadi kita under-invoicing di situ besar sekali," kata Purbaya.
"Saya minta itu ada bea keluar sehingga kalau ada bea keluar, Bea Cukai bisa periksa barangnya sebelum berangkat, sehingga saya bisa kendalikan kebocoran dari under-invoicing atau penyelundupan," pungkasnya.
(pta)
Add
as a preferred source on Google

2 hours ago
5

















































