Ratusan Gempa Kecil Dalam Sebulan, Sesar Lembang Ancam Bandung Raya?

2 hours ago 1

Jakarta, CNN Indonesia --

Monitoring mikro-gempa terbaru di jalur Sesar Lembang mengonfirmasi bahwa patahan ini masih aktif secara tektonik. Hal ini terlihat dari seringnya gempa berkekuatan kecil yang terjadi di wilayah tersebut.

Badan Geologi mencatat puluhan hingga ratusan kejadian gempa sangat kecil (micro-earthquake) dalam periode pemantauan sekitar satu bulan, dengan kedalaman dominan kurang dari 10 kilometer.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peneliti geofisika Badan Geologi Hidayat menyebut aktivitas tersebut menjadi indikator penting dinamika bawah permukaan.

"Dari pemantauan sekitar 121 kejadian mikro-gempa, terlihat sebaran hiposenter mengikuti jalur sesar. Ini memperkuat interpretasi bahwa struktur ini memang aktif," ujarnya dalam webinar, Kamis (26/2).

Ia menjelaskan, mikro-gempa umumnya tidak dirasakan masyarakat karena magnitudonya sangat kecil. Namun secara ilmiah, data tersebut krusial untuk memetakan geometri sesar dan memahami distribusi tegangan di bawah permukaan.

Data monitoring juga menunjukkan variasi karakter antarsegmen. Segmen timur memperlihatkan kecenderungan kemiringan struktur ke arah utara di dekat permukaan, sementara segmen tengah relatif tegak.

Segmen barat menunjukkan indikasi kompleksitas struktur di kedalaman yang kemungkinan berasosiasi dengan sistem sesar regional. Aktivitas kegempaan di kawasan ini juga terekam dalam katalog BMKG, yang secara rutin memantau gempa tektonik di Jawa Barat.

Strategi mitigasi

Badan Geologi menekankan, dengan potensi magnitudo maksimum hingga 6,5 jika seluruh segmen bergerak bersamaan, maka penting mitigasi berbasis risiko di wilayah Bandung Raya.

Pakar mitigasi gempa Badan Geologi Supartoyo mengatakan pendekatan pengurangan risiko harus dilakukan secara komprehensif.

"Mitigasi bukan hanya soal mengetahui ada sesar aktif, tetapi memastikan bangunan dan masyarakatnya siap," ujarnya.

Upaya mitigasi bencana gempa bumi dilakukan melalui dua pendekatan utama, yakni mitigasi struktural dan non-struktural.

Mitigasi struktural berfokus pada penguatan fisik bangunan dan penataan ruang. Langkah ini mencakup penerapan standar bangunan tahan gempa, audit struktur pada fasilitas vital seperti rumah sakit, sekolah, dan jembatan, serta penyesuaian tata ruang yang mengacu pada peta bahaya sesar aktif.

Belajar dari gempa Cianjur 2022 berkekuatan 5,6 magnitudo, Supartoyo menekankan bahwa dampak kerusakan yang besar kerap dipicu oleh kualitas bangunan yang tidak memenuhi standar.

Menurutnya, gempa dengan magnitudo 5,6 sekalipun dapat menimbulkan dampak sangat besar apabila tingkat kerentanan bangunannya tinggi.

Sementara itu, mitigasi non-struktural menitikberatkan pada peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Selain memperkuat infrastruktur, edukasi kebencanaan berbasis komunitas menjadi langkah penting agar masyarakat memahami risiko dan cara penyelamatan diri.

Simulasi evakuasi secara rutin di sekolah maupun perkantoran juga perlu dilakukan untuk membangun respons yang cepat dan terlatih saat gempa terjadi.

Di tingkat daerah, penyusunan rencana kontinjensi menjadi bagian krusial agar penanganan darurat dapat berjalan terarah dan terkoordinasi. Supartoyo menegaskan bahwa literasi, edukasi, dan mitigasi merupakan fondasi utama dalam mendukung upaya pengurangan risiko bencana gempa bumi.

Hasil monitoring mikro-gempa dan pemodelan tiga dimensi bawah permukaan kini menjadi dasar pembaruan peta bahaya gempa di sekitar Sesar Lembang. Pemerintah daerah diharapkan mengintegrasikan temuan ilmiah ini ke dalam kebijakan pembangunan.

Dengan kepadatan penduduk dan infrastruktur strategis di Bandung Raya, para peneliti mengingatkan bahwa kesiapsiagaan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

(wpj/dmi)

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |