Review Film: Ghost in the Cell

11 hours ago 10

Gisella Keilsa | CNN Indonesia

Minggu, 19 Apr 2026 20:20 WIB

 Meski dari segi alur cerita ada yang terasa kurang masuk akal, Ghost in the Cell tetap meninggalkan kesan karakter yang sangat kuat. Secara singkat, film Ghost in the Cell mengisahkan entitas jahat yang mengincar orang-orang dengan aura negatif atau kemarahan yang meluap. (Come and See Pictures)

Meski dari segi cerita ada yang terasa kurang masuk akal, Ghost in the Cell tetap meninggalkan kesan karakter yang sangat kuat.

Jakarta, CNN Indonesia --

Joko Anwar kembali membawa angin segar lewat karya terbarunya, Ghost in the Cell. Kali ini, Jokan tampil lebih berani dengan mengeksplorasi sisi gelap sebuah lembaga pemasyarakatan alias lapas yang suram.

Film fiksi ini bukan sekadar horor biasa, melainkan kritik sosial tajam yang menggambarkan keresahan sang kreator terhadap bobroknya pengelola dan pengelolaan sistem di Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Secara singkat, film Ghost in the Cell mengisahkan entitas jahat yang mengincar orang-orang dengan aura negatif atau kemarahan yang meluap.

Pesan yang ingin disampaikan cukup jelas: "hantu pun bisa marah melihat kejahatan manusia". Janganlah menjadi manusia yang jahat, karena energi negatif itu akan mengundang petaka bagi diri sendiri.

Lewat film ini, Joko Anwar menampilkan kengerian gore yang sangat eksplisit. Namun tak cuma darah, Joko juga menyentil aspek psikologis melalui elemen yang mengguncang pengidap trypophobia atau fobia terhadap objek berlubang banyak.

Secara visual, lubang-lubang yang bikin merinding itu diasosiasikan dengan pembusukan dan parasit. Hal itu sebagai simbol kejahatan karakter di dalamnya bukan sekadar perilaku, melainkan telah menggerogoti moralitas mereka dari dalam.

Lapas Labuan Angsana dalam film ini menjadi mikrokosmos dari sebuah negara. Menariknya, film ini menunjukkan bahwa tahanan tidak selamanya jahat, justru para sipir sering kali bertindak jauh lebih keji.

Film Ghost in the Cell (2026). (Come and See Pictures)Review Film Ghost in the Cell (2026): Lapas digambarkan sebagai dunia tertutup di mana penyiksaan terjadi atas nama keadilan oleh oknum yang memiliki pola pikir menghukum, bukan merehabilitasi.
(Come and See Pictures)

Lapas digambarkan sebagai dunia tertutup di mana penyiksaan terjadi atas nama keadilan oleh oknum yang memiliki pola pikir menghukum, bukan merehabilitasi.

Joko Anwar juga sangat berani menyentil isu-isu nyata, seperti sosok aktivis pembela rakyat yang di masa tuanya justru menjadi koruptor.

Hierarki kekuasaan di penjara pun digambarkan sangat kental, di mana sipir korup bersekutu dengan pemimpin narapidana demi menjaga citra bersih sekaligus mempertahankan kontrol.

Film ini diperkuat oleh jajaran aktor papan atas seperti Abimana Aryasatya, Rio Dewanto, Lukman Sardi, Bront Palarae, Tora Sudiro, Morgan Oey, Endy Arfian, dan Kiki Narendra.

Salah satu yang paling mencuri perhatian adalah penampilan Aming. Berbeda dari peran-peran sebelumnya, kali ini Aming sama sekali tidak membawakan karakter humor.

Berperan sebagai seorang psikopat, Aming berhasil menunjukkan transformasi karakter yang dingin, unik, sekaligus sangat mengancam.

Film Ghost in the Cell (2026). (Come and See Pictures)Review Film Ghost in the Cell (2026): Berperan sebagai seorang psikopat, Aming berhasil menunjukkan transformasi karakter yang dingin, unik, sekaligus sangat mengancam. (Come and See Pictures)

Meski atmosfernya gelap, Ghost in the Cell tetap memberikan jeda melalui humor. Komedi ini hadir dalam bentuk percakapan berupa sindiran dialog terhadap berbagai isu di Indonesia, seperti "Preman masuknya nggak di penjara, masuknya ormas," dan "Tapi kan lu tinggal di Indonesia, bukan Norwegia."

Penggunaan elemen ini cerdas untuk mencegah penonton mengalami kelelahan mental akibat visual penyiksaan yang intens, sekaligus menjadi cara efektif untuk menyampaikan kritik sosial.

Meski dari segi alur cerita terutama soal hantu yang mendeteksi aura terasa kurang masuk akal bagi sebagian penonton, Ghost in the Cell tetap meninggalkan kesan karakter yang sangat kuat.

Kelemahan dalam Ghost in the Cell yang bisa dirasakan terletak pada dialog yang terkadang terasa repetitif, dan level bahasanya yang kurang dalam di beberapa bagian.

Namun pesan utamanya tetap sampai. Setan paling mengerikan bukanlah makhluk halus, melainkan sistem yang busuk dan hilangnya kendali diri manusia.

Film ini terasa sangat lekat dengan realitas saat ini. Menontonnya membuat tertawa getir, sebuah tawa yang muncul karena melihat betapa lucunya sekaligus tragisnya kondisi negeri tercinta yang bikin sesak di dada.

[Gambas:Youtube]

(end)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |