Review Film: Suka Duka Tawa

5 hours ago 2

Gisella Keilsa | CNN Indonesia

Jumat, 16 Jan 2026 20:00 WIB

 Film yang menghibur sekaligus ajak penonton refleksi diri, meski humor dan dramanya terasa nanggung. Review Suka Duka Tawa: Film yang menghibur sekaligus ajak penonton refleksi diri, meski humor dan dramanya terasa nanggung. (Bion Studios via IMDb)

img-title

Review Suka Duka Tawa: Film yang menghibur sekaligus ajak penonton refleksi diri, meski humor dan dramanya terasa nanggung.

Jakarta, CNN Indonesia --

Suka Duka Tawa menjadi film awal tahun yang menghibur penonton lewat gelak tawa, sekaligus refleksi diri soal luka lama yang dibiarkan mengendap.

Film ini memotret sisi ironis para pelakon komedi yang mendedikasikan hidup untuk memancing tawa orang lain, meski pada saat yang sama, hati mereka sendiri sedang retak.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Aco Tenriyagelli tampak ingin menyelami fenomena fatherless yang belakangan kerap diperbincangkan Generasi Z menjadi isu yang ia soroti dalam film debut penyutradaraannya.

Isu tersebut bukan sekadar tren media sosial, melainkan realitas pahit di Indonesia. BKKBN bahkan mencatat persentase fatherless pada 2025 lebih tinggi daripada kepala keluarga yang tidak bekerja.

Data menunjukkan bahwa keluarga dengan kepala keluarga yang tidak bekerja memiliki angka fatherless yang lebih tinggi (63 persen) dibandingkan kepala keluarga yang tidak bekerja (24,1 persen).

Melalui film ini, Aco menegaskan kehadiran ayah bukan sekadar status hukum atau pemenuhan materi semata, melainkan soal keterlibatan rasa dan emosi dalam proses tumbuh kembang anak.

Absennya peran ayah sangat nyata karena meninggalkan lubang pada identitas dan kestabilan emosional anak. Hal tersebut yang digambarkan jelas dalam Suka Duka Tawa.

Film tersebut membawa pesan optimis sekaligus menyentil penonton.

[Gambas:Video CNN]

Alur cerita dalam film ini dibangun secara bertahap. Alasan Pak Keset (Teuku Rifnu Wikana) meninggalkan Tawa (Rachel Amanda) tidak langsung disodorkan secara gamblang, memaksa penonton untuk terus mengikuti alur cerita secara perlahan.

Aco bersama Indriani Agustina selaku penulis mengajak penonton untuk mengupas lapisan demi lapisan di balik hubungan Tawa dan bapaknya yang berjarak.

Penonton juga dibawa untuk membedah realitas di balik layar kehidupan seorang komika. Proses kreatif yang melelahkan dalam meriset materi hingga pergulatan batin yang harus disembunyikan demi tawa penonton.

Satu hal yang menarik dalam film ini adalah bergabungnya dua generasi pelawak dalam memadukan gaya komedian lawas serta komika baru.

Tim kreatif di belakang layar seolah ingin membuktikan bahwa perbedaan gaya dan latar belakang tidak menjadi sekat untuk merayakan kebersamaan lewat komedi.

Duet penulis naskah sangat memahami bahwa humor paling efektif sering kali lahir secara alami melalui jeda yang canggung atau ekspresi wajah.

Kehadiran rekan-rekan komika Tawa pun terkadang menjadi penyelamat di ruang-ruang kosong film. Dengan tingkah konyol dan celetukan spontan, mereka menghidupkan suasana.

Namun, harus diakui bahwa tidak semua elemen humornya berhasil. Di beberapa bagian, masih ada adegan yang terasa dipaksakan untuk lucu.

Pemilihan Rachel Amanda sebagai karakter Tawa pada awalnya mungkin mengundang tanya, mengingat ia belum pernah berkecimpung di dunia komedi tunggal.

Namun, seiring berjalannya durasi, saya paham dengan alasan ia dipilih. Film ini nyatanya tetap banyak membawakan adegan mellow dan pengungkapan emosional yang menjadi keunggulan Rachel di peran-peran sebelumnya.

Karakter Tawa sendiri ditulis sebagai protagonis yang jauh dari ideal. Ia egois dan sering menjadikan lukanya sebagai senjata. Film ini tidak meminta penonton untuk menyukai Tawa, melainkan memahami sumber kemarahannya.

Film Suka Duka Tawa (2026). (Bion Studios via IMDb)Review Suka Duka Tawa: Rachel Amanda menghadirkan sosok Tawa yang mengajak penonton menggali sumber kemarahan dalam dirinya. (Bion Studios via IMDb)

Namun, sorotan utama layak diberikan kepada Teuku Rifnu Wikana dalam memerankan ayah Tawa (Keset). Ia kembali menantang dirinya untuk semakin lentur dalam bermain komedi setelah menjadi Asmuni dalam Srimulat: Hidup Memang Komedi.

Aktor yang identik dengan peran serius ini mampu bertransformasi menjadi bapak-bapak dengan jokes garing yang terkadang aneh dan usil.

Film Suka Duka Tawa (2026). (Bion Studios via IMDb)Review Suka Duka Tawa: Teuku Rifnu Wikana kembali menantang dirinya dalam genre komedi berbalut drama melalui film ini. (Bion Studios via IMDb)

Kisah dan akting para bintang tersebut didukung dengan soundtrack yang semakin melengkapi satu dengan yang lain. Hasilnya, adegan-adegan itu berhasil memperkuat emosi penonton pada saat yang tepat.

Namun, catatan film ini adalah baik komedi dan drama dalam film ini tidak didalami dan eksplorasi mendalam. Jika berekspektasi tertawa terbahak-bahak atau terisak karena merasa begitu terhubung, sebaiknya ekspektasi itu harus dikurangi.

Film ini terasa ragu untuk melompat lebih jauh ke salah satu sisi emosi tersebut. Pengeksekusian konflik kurang digali mendalam. Latar belakang mengenai akar permasalahan keluarga Tawa terasa hanya baru di lapisan paling luar.

Meskipun begitu, film ini tetap sukses menyampaikan pesan filosofis bahwa tawa tidak selalu berarti kebahagiaan.

Bagi penonton yang memiliki kedekatan personal dengan isu hubungan ayah dan anak, film ini tetap layak dinikmati sebagai refleksi diri yang juga bisa menyentuh sisi sensitif personal.

(gis/chri)

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |