CNN Indonesia
Sabtu, 28 Feb 2026 06:50 WIB
Ilustrasi. Drama Korea Moon River. (MBC)
Jakarta, CNN Indonesia --
Seruan boikot konten hiburan asal Korea Selatan oleh para netizen Asia Tenggara alias SEAblings sebagai imbas perang melawan netizen Korea alias KNetz ternyata disadari oleh pejabat di Seoul.
Seorang pejabat pemerintahan Korea Selatan yang mengurusi urusan ASEAN mengatakan kepada The Korea Times bahwa mereka menyadari tanda-tanda sentimen anti konten Korea dari para SEAblings.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami khawatir kemarahan ini menyebar ke sentimen publik yang lebih luas, jadi kami telah memantaunya dengan cermat," kata pejabat itu seperti diberitakan The Korea Times pada Jumat (27/2).
Pejabat tersebut mengatakan meski tanda-tanda perang dan kampanye boikot sudah mereda, Pemerintah Korsel menganggap keriuhan tersebut sebagai masalah yang perlu diperhatikan.
Mereka juga berencana meningkatkan pemantauan topik daring di seluruh wilayah dalam bahasa Melayu, Indonesia, dan bahasa Asia Tenggara lainnya untuk melacak seberapa jauh sentimen anti-Korea menyebar.
Ia mengakui bahwa kemarahan SEAblings menunjukkan betapa cepatnya sentimen anti-Korea dapat muncul ketika insiden tertentu berbenturan dengan keluhan yang sudah beredar sebelumnya, dalam hal ini adalah anggapan bahwa warga Korea Selatan kerap bertindak rasisme terhadap sesama bangsa Asia.
"Kami tidak dapat sepenuhnya mengesampingkan kemungkinan bahwa, seiring dengan semakin menonjolnya budaya Korea, beberapa reaksi balasan juga akan tumbuh," kata pejabat tersebut.
Ia juga menyebut Pemerintah Korsel perlu melakukan manajemen risiko yang lebih sistematis di Asia Tenggara, bukan cuma respons krisis jangka pendek, dan pendekatan yang hati-hati melalui proyek bersama seperti festival musik ASEAN-Korea.
Perang netizen Asia Tenggara melawan Korea Selatan awalnya disebabkan dari beberapa orang Korsel yang melanggar aturan konser di Malaysia. Hal itu diperdebatkan di media sosial hingga berujung pada pernyataan rasial.
Konflik ini bermula dari konser DAY6 yang digelar 31 Januari 2026 di Axiata Arena, Kuala Lumpur. Seorang fansite master asal Korea Selatan nekat membawa peralatan kamera profesional dengan lensa panjang ke area konser.
Padahal, hal itu sudah jadi larangan konser di banyak negara. Tindakan itu juga pelanggaran berat terhadap aturan penyelenggara yang melarang penggunaan kamera profesional demi kenyamanan penonton dan hak cipta.
Ketegangan meningkat setelah penonton lokal Malaysia merekam aksi pelanggaran tersebut dan menyebarkannya di media sosial X hingga menjadi viral.
Meskipun oknum fansite tersebut dilaporkan telah meminta maaf, situasi justru berbalik menjadi panas ketika sekelompok penggemar asal Korea Selatan lainnya tidak terima dengan larangan tersebut.
Oknum-oknum itu mulai menunjukkan sikap bermusuhan terhadap Malaysia, salah satunya bahkan menyinggung bahwa idol K-pop hanya boleh dinikmati orang-orang Korea Selatan.
Interaksi di media sosial X kemudian berubah menjadi ajang penghinaan rasial sangat kasar. Sebagian netizen Korea Selatan melontarkan ejekan merendahkan fitur fisik, bahasa, hingga kondisi ekonomi masyarakat Asia Tenggara.
Serangan rasis ini memicu gelombang solidaritas di antara netizen Asia Tenggara, yang selama ini dikenal sebagai SEAblings, termasuk dari Indonesia, Filipina, dan Thailand, yang merasa dihina secara kolektif.
Seiring dengan 'perang' tersebut, 'pasukan' netizen Asia Tenggara yang didominasi gabungan dari Indonesia, Malaysia, Thailand, Filipina, Vietnam alias SEAblings menyuarakan boikot konten asal Korea Selatan.
(end)

4 hours ago
1
















































