Jakarta, CNN Indonesia --
Drone Shahed Iran belakangan menyita perhatian karena digunakan secara masif dalam perang Iran vs Amerika Serikat (AS)-Israel.
Sejak perang meletus pada 28 Februari, Iran mengerahkan ratusan, bahkan mungkin ribuan, drone Shahed untuk membombardir kedutaan besar AS di Timur Tengah, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung tinggi terkait AS dan Israel di kawasan.
Para ahli memperhatikan pengerahan drone Shahed ini tampaknya menjadi taktik Iran untuk melemahkan musuh-musuhnya. Sebab, drone berbiaya murah dan mudah diproduksi tersebut tampaknya mulai berhasil menguras aset Amerika Serikat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dilansir dari NBC News, Ketua Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat Dan Caine mengatakan dalam sebuah pengarahan bahwa kendaraan nirawak Iran merupakan "ancaman" nyata bagi Washington.
Drone-drone itu, kata Caine, telah menjadi target efektif sistem pertahanan udara AS, yang menurutnya berhasil melawan mereka.
Bagi para pengamat, pernyataan Caine ini bukan suatu kebanggaan. Pasalnya, yang terjadi adalah sistem pertahanan udara mahal AS dipakai hanya untuk menumpas drone murah, yang harganya jauh di bawah sistem rudal Washington.
Satu drone Shahed Iran diperkirakan seharga antara US$30.000-50.000 (sekitar Rp505 juta-843 juta). Sedangkan pesawat atau sistem rudal Patriot AS bernilai 10 kali lipat dari itu.
"Jika (konflik) ini berlangsung lama, mereka mungkin harus menemukan cara yang lebih berkelanjutan," kata Kelly Grieco, peneliti senior di lembaga think tank AS, Stimson Center.
Kyle Glen, peneliti dari organisasi nirlaba Center for Information Resilience di London, mengatakan Teheran telah memperhitungkan dengan cermat bahwa mereka akan menghadapi kekuatan militer yang lebih unggul.
Kesadaran ini mendorong Iran untuk mengeksplorasi peperangan asimetris, yakni upaya membuat frustrasi musuh yang lebih besar dan kuat secara teknologi dengan kemampuan seadanya namun efektif.
Drone adalah contoh utamanya. Shahed diproduksi dengan biaya murah menggunakan komponen dual-use dan diluncurkan dari belakang truk. Drone-drone itu bisa dirakit diam-diam, tidak seperti rudal yang butuh infrastruktur besar dan produksinya mencapai jutaan dolar.
"Drone tersebut memang dirancang Iran untuk perang seperti ini," kata Glen.
Analis senior di lembaga think tank Institute for the Study of War, George Barros, mengatakan penggunaan aset mahal dan sulit diproduksi untuk menjatuhkan senjata tak canggih seperti drone Shahed menunjukkan kegagalan AS dalam mengambil pelajaran dari Ukraina.
Di perang Rusia-Ukraina, Kremlin menggunakan drone Shahed Iran untuk membuat Kyiv kewalahan. Menurut laporan C4ADS, Rusia memborong 6.000 unit teknologi tersebut dari Iran pada November 2022.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan 57.000 drone semacam ini telah diluncurkan Rusia ke kota-kota dan infrastruktur Ukraina hingga sekarang.
Untuk mencegat dan mempertahankan diri dari drone jenis ini, Ukraina membangun dan menggunakan sistem multi-arah yang melibatkan kelompok bergerak, pesawat nirawak pencegat, dan rudal-rudal lainnya. Sistem rudal Patriot AS adalah salah satu sistem pertahanan udara yang dipakai Ukraina melawan Rusia.
Menurut Barros, AS saat ini dalam posisi rentan. Jumlah konflik global terus meningkat, begitu pula tuntutan sekutu akan Patriot. AS sendiri cuma bisa memproduksi sekitar 600 unit per tahun.
Dengan kondisi ini, Iran sangat bisa membalikkan situasi. Iran bisa menembakkan amunisi murah mereka sebanyak dan selama mungkin sambil menyaksikan stok pertahanan AS menipis.
"Semua indikasi menunjukkan bahwa ini merupakan ancaman serius bagi dunia, bagi negara Barat, dan bagi stabilitas," kata analis di C4ADS, Omar Al Ghusbi.
Spesifikasi Shahed-136
Drone Shahed-136 memiliki panjang 3,5 meter dengan bentang sayap 2,5 meter. Beratnya mencapai 200 kilogram dan kecepatan luncurnya maksimal 115 mph.
Jangkauan Shahed-136 yakni sekitar 2.000 kilometer.
Sebagian besar Shahed-136 umumnya bergerak lambat. Drone ini juga cuma bisa membawa bahan peledak seberat 50 kilogram alias hanya bisa merusak gedung pencakar langit dan tidak bisa meruntuhkannya.
Namun, suara bisingnya, ukurannya yang besar, serta kemampuan terjun bebasnya mampu menciptakan teror. Shahed biasanya diprogram untuk jalur penerbangan yang kompleks dan terbang rendah di atas tanah guna menghindari deteksi radar.
Di Ukraina, drone ini dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator, sehingga memungkinkan mereka mengubah haluan pada menit-menit terakhir.
Shahed-136 dirancang pada akhir dekade lalu dan pertama kali terlihat pada Juli 2021 dalam serangan terhadap kapal tanker minyak milik Israel, Mercer Street.
(blq/dna)

2 hours ago
1















































