Strategi Cuan Maksimal dari Obligasi Saat Ekonomi Global Morat-marit

1 hour ago 8
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Ketidakpastian ekonomi global belakangan membuat banyak investor mulai lebih berhati-hati dalam menempatkan dana. Gejolak geopolitik, pelemahan rupiah, hingga fluktuasi pasar saham membuat instrumen investasi yang stabil kembali dilirik, termasuk obligasi.

Di tengah kondisi tersebut, para ahli menilai obligasi dinilai masih menjadi salah satu instrumen yang relatif aman dengan imbal hasil menarik. Selain menawarkan pendapatan rutin dari kupon, obligasi juga dianggap memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan saham yang volatilitasnya tinggi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut beberapa hal yang perlu dipahami sebelum berinvestasi obligasi di tengah ketidakpastian global:

1. Obligasi menarik karena lebih stabil

Perencana Keuangan Advisors Alliance Group Indonesia Dandy mengatakan obligasi masih layak dipertimbangkan untuk investasi saat ini. Selain yield-nya masih lebih tinggi suku bunga acuan, obligasi juga stabil di tengah pasar saham Indonesia masih sangat volatil.

"Makanya banyak orang yang tarik uang dari pasar saham dan pindah ke yang tidak terlalu volatil untuk sekarang," kata Dandy.

2. Kenaikan suku bunga bisa menekan harga obligasi

Menurut Dandy, meski relatif aman, obligasi tetap memiliki risiko, terutama ketika suku bunga acuan naik. Pelemahan rupiah saat ini membuka peluang Bank Indonesia (BI) menaikkan BI Rate untuk menjaga daya tarik investasi di Indonesia.

"Ketika BI Rate naik, obligasi yang tenornya panjang bisa mengalami penurunan harga jual," ujar Dandy.

Karena itu, investor dinilai perlu memahami hubungan antara suku bunga dan harga obligasi. Semakin panjang tenor obligasi, biasanya semakin sensitif terhadap perubahan suku bunga.

3. Cocok untuk investor yang ingin pendapatan rutin

Selain itu, Dandy melihat obligasi cocok bagi investor yang ingin memperoleh penghasilan berkala dari kupon. Oleh karenanya, apabila tujuan investasi adalah passive income atau dana pensiun, maka obligasi tenor panjang bisa menjadi pilihan menarik.

"Kalau dibeli sampai maturity untuk terima kuponnya, maka itu bukan jadi masalah," imbuh Dandy.

4. Pilih obligasi pemerintah

Bagi investor pemula, Dandy menilai obligasi pemerintah menjadi pilihan paling aman. Instrumen seperti ORI, SBR, dan Sukuk Ritel dijamin oleh pemerintah sehingga risiko gagal bayarnya sangat kecil.

"Saran saya untuk pemula ambil saja obligasi pemerintah seperti ORI, SBR ataupun Sukuk," ujar Dandy.

Andi juga menilai Surat Utang Negara (SUN) ritel masih prospektif hingga akhir 2026. Selain stabil, imbal hasilnya dinilai lebih menarik dibanding deposito.

"Dibandingkan dengan bunga deposito, imbal hasil dari SUN masih lebih tinggi," kata Andi.

5. Pilih fixed rate atau floating rate sesuai kondisi

Investor juga perlu memahami jenis kupon obligasi sebelum membeli. Obligasi fixed rate menawarkan kupon tetap, sedangkan floating rate dapat berubah mengikuti suku bunga acuan.

"Kalau belum ada kepastian suku bunga bisa pilih yang floating, tapi kalau tipe orang yang suka pasti-pasti saja ambil yang fixed rate juga tidak apa-apa," terang Dandy.

6. Imbal hasil masih lebih tinggi dari deposito

Perencana keuangan Andi Nugroho menilai obligasi masih layak dipertimbangkan, terutama bagi investor yang ingin menjaga kestabilan aset sekaligus memperoleh pendapatan rutin.

Menurut Andi, prospek obligasi pemerintah hingga akhir 2026 masih cukup menarik. Di tengah ketidakpastian global, Surat Utang Negara (SUN) seperti ORI dan Sukuk Ritel dinilai menjadi salah satu instrumen paling stabil.

"Dibandingkan dengan instrumen investasi lainnya, SUN seperti ORI dan Sukuk Ritel merupakan instrumen yang paling stabil," ujarnya.

Tak hanya stabil, obligasi pemerintah juga menawarkan imbal hasil yang lebih kompetitif dibanding deposito perbankan. Hal inilah yang membuat obligasi masih menjadi pilihan menarik untuk investasi jangka menengah hingga panjang.

"Dibandingkan dengan bunga deposito, imbal hasil dari SUN masih lebih tinggi," pungkas Andi.

[Gambas:Youtube]

(pta)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |