Studi: Panas Ekstrem Bikin Aktivitas Manusia Semakin Terbatas

2 hours ago 6

Jakarta, CNN Indonesia --

Sebuah studi terbaru mengungkap cuaca panas ekstrem imbas krisis iklim membuat aktivitas harian manusia semakin terbatas.

Laporan tersebut memperingatkan bahwa kenaikan suhu Bumi membuat banyak orang kesulitan melakukan aktivitas fisik seperti pekerjaan rumah tangga atau naik tangga pada siang hari di puncak musim panas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kondisi ini jauh lebih berbahaya bagi kelompok lansia, karena kemampuan tubuh mereka untuk berkeringat berkurang, sehingga suhu tubuh menjadi lebih sulit dikendalikan.

Temuan ini didasarkan pada studi komprehensif yang menggabungkan penelitian fisiologis tentang ambang batas panas dengan data populasi dan perkembangan iklim global dan regional selama tujuh dekade terakhir.

Laporan tersebut juga mengungkap bahwa rata-rata lansia berusia di atas 65 tahun menghadapi sekitar 900 jam panas ekstrem setiap tahunnya yang membatasi aktivitas luar ruangan mereka. Angka ini melonjak dari 600 jam pada tahun 1950, atau setara dengan 'kehilangan' waktu siang hari selama lebih dari 30 hari dalam setahun.

Studi ini juga menekankan bahwa masyarakat di negara miskin jadi pihak yang paling terdampak panas ekstrem. Ironisnya, mereka justru merupakan kelompok yang paling sedikit berkontribusi terhadap krisis iklim dibanding kelompok kaya.

Di beberapa negara tropis dan subtropis, kondisi panas ekstrem membatasi aktivitas lansia di luar ruangan selama seperempat hingga sepertiga waktu dalam setahun.

Tantangan terberat ditemukan di Asia Barat Daya (Bahrain, Qatar, Kuwait, Uni Emirat Arab, Irak, dan Oman), Asia Selatan (Pakistan, Bangladesh, dan India), serta sebagian Afrika Barat (Mauritania, Mali, Burkina Faso, Senegal, Djibouti, dan Niger).

Terdapat variasi yang signifikan di tiap negara berdasarkan geografis, kelompok pendapatan, dan jenis pekerjaan. Di India, batasan aktivitas paling mencolok di Dataran Indo-Gangetic dan dataran rendah timur, dan paling tidak terlihat di Pegunungan Western Ghats dan kaki pegunungan Himalaya.

Di Amerika Selatan, penduduk di lembah Amazon jauh lebih rentan daripada mereka yang tinggal di dataran tinggi Andes. Sementara di banyak negara Teluk, orang-orang kaya dapat mengurangi risiko dengan menggunakan pendingin udara, sedangkan pekerja migran miskin terpapar tingkat radiasi Matahari yang berbahaya saat bekerja di situs konstruksi dan pekerjaan luar ruangan lainnya.

Studi yang dipimpin ilmuwan dari The Nature Conservancy dan diterbitkan dalam jurnal Environmental Research ini, melangkah lebih jauh dari penelitian sebelumnya tentang risiko panas global dengan menganalisis kapasitas sosial dan fisiologis untuk beradaptasi dengan panas.

Para penulis mengukur tingkat 'keterhunian' pada berbagai suhu menggunakan satuan Metabolik Equivalent (MET), yang setara dengan pengeluaran energi rata-rata manusia saat beristirahat.

Aktivitas hingga 3,3 MET-seperti menyapu lantai atau berjalan sedang-masih dianggap aman bagi warga di bawah usia 65 tahun jika dilakukan dalam jangka panjang tanpa memicu stres panas.

Kondisi tersebut memungkinkan mereka menjaga suhu inti tubuh tetap stabil. Sebaliknya, 'batas ketidaklayakan' ditemukan di lokasi panas saat aktivitas manusia terbatas hanya pada tingkat 1,5 MET, yaitu aktivitas pasif seperti berbaring atau duduk.

Untuk menganalisis kerentanan berbagai kelompok usia, peneliti mengukur produksi keringat dan kelembapan kulit individu yang ditempatkan di ruang panas dalam jangka waktu tertentu.

Mereka membandingkan batasan kelayakan hidup antara periode awal (1950-1979) dan periode akhir (1995-2024). Hasilnya menunjukkan perluasan wilayah dunia yang mengalami krisis kelayakan hidup akibat panas ekstrem, yang berdampak pada semakin banyak orang. Batasan terparah tercatat pada tahun terakhir studi, yakni 2024.

Penulis menyatakan bahwa hasil penelitian ini menunjukkan kebutuhan mendesak untuk mengurangi sumber utama pemanasan global, yakni minyak, gas, dan batu bara. Mereka juga mendesak pembuat kebijakan untuk mengalokasikan sumber daya bagi komunitas, kelompok usia, dan wilayah yang paling terdampak.

"Ratusan juta orang tidak lagi dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan aman di luar ruangan selama periode terpanas dalam setahun," ungkap Luke Parsons, penulis utama studi tersebut, melansir The Guardian, Selasa (10/3).

"Dan sebagian besar dari mereka berada di negara-negara yang justru paling sedikit berkontribusi terhadap masalah ini," lanjutnya.

Setiap kenaikan suhu, meski hanya sepersekian derajat, akan memperluas dampak tersebut. Tahun 2024 memberikan gambaran mengkhawatirkan tentang dunia dengan pemanasan 1,5 derajat Celsius di atas level pra-industri, yang seharusnya memperkuat tekad kolektif kita untuk menghindari pemanasan hingga 2 derajat Celsius atau lebih.

"Dalam jangka pendek, investasi pada sistem peringatan dini panas, infrastruktur pendinginan, serta perlindungan bagi lansia dan pekerja lapangan sangatlah mendesak. Namun, investasi lokal ini tidak bisa menggantikan kebutuhan mendasar untuk membatasi pemanasan global," tutup Parsons.

(wpj/dmi)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |