Jakarta, CNN Indonesia --
Dua negara tetangga RI di Asia Tenggara mengalami kenaikan harga BBM tertinggi, sebagai imbas serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran sejak 28 Februari lalu.
Menurut data yang dianalisis dari Global Petrol Prices, sebuah platform data yang melacak dan menerbitkan harga energi ritel di sekitar 150 negara, setidaknya 85 negara melaporkan kenaikan harga BBM.
Dari puluhan negara tersebut, Kamboja mencatat kenaikan harga bensin tertinggi sekitar 68 persen yakni naik dari US$1,11 per liter bensin oktan 95 pada 23 Februari, menjadi US$1,32 pada 11 Maret.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain Kamboja, Vietnam menyusul dengan kenaikan hingga 50 persen. Kemudian Nigeria sebesar 35 persen, Laos sebesar 33 persen, dan Kanada sebesar 28 persen.
Kenaikan harga BBM di puluhan negara, termasuk di Asia, sangat terkait dengan ketergantungannya pada Selat Hormuz sebagai jalur pengiriman minyak dan gas.
Dilansir Al Jazeera, Selat Hormuz yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Arab ke Teluk Oman, menjadi satu-satunya jalur bagi produsen minyak di kawasan ini ke laut lepas.
Di beberapa negara tetangga RI, sejumlah kebijakan penghematan BBM mulai diberlakukan.
Di Thailand, pemerintah menaikkan batas harga dari tidak lebih dari 30 baht per liter, menjadi 33 baht per liter. Kenaikan pertama mulai berlaku pada Rabu (18/3). Sementara di Vietnam, pemerintah telah berkali-kali melakukan penyesuaian harga BBM, mengikuti fluktuasi harga minyak global.
Selain di Asia Tenggara, dua negara di Asia Timur yakni Jepang dan Korea Selatan termasuk yang paling rentan terdampak. Sebab kedua negara ini masing-masing mengimpor 95 persen dan 70 persen minyak mereka dari Teluk.
Awal Maret ini, kedua negara itu memberlakukan langkah-langkah darurat untuk menstabilkan pasar energi mereka.
8 Maret lalu Jepang menginstruksikan lokasi cadangan minyaknya untuk bersiap menghadapi potensi pelepasan cadangan strategis. Keesokan harinya, Korsel menetapkan batas harga maksimum untuk bensin dan solar untuk pertama kalinya dalam 30 tahun.
Di Asia Selatan, dampak perang paling terasa di negara-negara seperti Pakistan dan Bangladesh, yang memiliki cadangan keuangan jauh lebih tipis dan cadangan strategis yang lebih kecil.
Demi hemat energi, Bangladesh telah memerintahkan semua universitas negeri dan swasta untuk ditutup sementara.
Di Pakistan, kantor-kantor pemerintah kini akan beroperasi dengan sistem empat hari kerja dalam seminggu, sementara sekolah-sekolah telah ditutup, dan kebijakan 50 persen bekerja dari rumah telah diberlakukan untuk menghemat bahan bakar.
(dna)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
2

















































