CNN Indonesia
Rabu, 20 Mei 2026 06:45 WIB
Ilustrasi. Sesuai studi, ada resepnya hubungan langgeng dan romantis. (iStock/PeopleImages)
Jakarta, CNN Indonesia --
Hubungan yang langgeng kerap dibayangkan sebagai hubungan yang selalu harmonis, minim konflik, dan tampak baik-baik saja dari luar.
Padahal, hubungan yang sehat bukan berarti tanpa masalah. Kuncinya justru terletak pada bagaimana pasangan saling merespons, mengelola konflik, serta menjaga kualitas hubungan dari waktu ke waktu.
Sejumlah studi menunjukkan, ada pola yang cukup konsisten pada pasangan yang mampu mempertahankan hubungan jangka panjang. Berikut beberapa di antaranya:
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Saling responsif, bukan sekadar sering berkomunikasi
Bukan soal seberapa sering berbicara, melainkan bagaimana respons yang diberikan. Dalam kajian psikologi hubungan, perceived responsiveness, yakni perasaan dipahami, didengar, diperhatikan, dan divalidasi, menjadi salah satu inti keintiman dalam hubungan romantis. Pasangan yang sehat tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga terhubung secara emosional.
2. Memiliki cara menyelesaikan konflik bersama
Konflik adalah hal yang wajar dalam hubungan. Yang membedakan adalah cara pasangan menghadapinya. Penelitian terhadap pasangan yang menikah lebih dari 40 tahun menunjukkan bahwa hubungan yang bertahan lama biasanya memiliki strategi penyelesaian konflik yang dibangun bersama. Fokusnya bukan pada siapa yang menang, melainkan menemukan solusi yang bisa diterima kedua pihak.
Hal sederhana seperti mengucapkan terima kasih atau menghargai usaha pasangan ternyata berdampak besar. Rasa syukur dalam hubungan berkaitan dengan kepuasan, komunikasi yang lebih baik, serta dukungan emosional yang lebih kuat. Pasangan yang merasa dihargai cenderung lebih mampu menjaga stabilitas hubungan.
4. Komunikasi terus dirawat
Komunikasi yang baik bukan sesuatu yang berjalan otomatis. Melatih komunikasi dalam hubungan terbukti dapat meningkatkan kepuasan pasangan. Artinya, komunikasi adalah keterampilan yang bisa dipelajari dan dikembangkan, bukan sekadar soal kecocokan sejak awal.
5. Tetap terasa seperti teman, bukan hanya pasangan
Hubungan jangka panjang tidak hanya bergantung pada romantisme, tetapi juga keakraban. Pasangan yang sehat biasanya memiliki hubungan layaknya sahabat, nyaman, saling mendukung, dan bisa menjadi diri sendiri. Kualitas ini berperan penting terhadap kesejahteraan emosional masing-masing individu.
6. Memiliki kebiasaan hidup yang saling mendukung
Gaya hidup juga memengaruhi kualitas hubungan. Studi tentang health-promoting behaviors menunjukkan bahwa kebiasaan seperti tidur cukup, pola makan seimbang, dan rutin berolahraga berkaitan dengan kepuasan hubungan serta ketahanan pasangan. Hubungan yang sehat sering berjalan seiring dengan pola hidup yang stabil.
7. Tetap meluangkan waktu untuk bertemu langsung
Di era digital, komunikasi lewat pesan memang praktis. Namun, interaksi tatap muka tetap memiliki peran penting. Komunikasi langsung berkaitan dengan rasa lebih dipahami dan tingkat kepuasan hubungan yang lebih tinggi. Pesan teks dapat membantu, tetapi kehadiran fisik tetap sulit tergantikan.
Pada akhirnya, hubungan yang sehat dan bertahan lama bukan soal selalu sempurna atau bebas konflik. Pasangan yang mampu bertahan justru adalah mereka yang saling responsif, tahu cara menyelesaikan masalah, rutin menunjukkan apresiasi, serta konsisten merawat hubungan, baik dalam hal kecil maupun besar.
(anm/tis)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
2

















































