Ayah Ibu, Gentle Parenting Tak Melulu soal Memanjakan Anak

7 hours ago 1

CNN Indonesia

Jumat, 10 Apr 2026 11:15 WIB

Gentle parenting kerap identik dengan kebiasaan memanjakan anak. Padahal, tak sekadar manja, gentle parenting justru bisa menuai banyak manfaat untuk si kecil. Ilustrasi. Bukan sekadar manja, gentle parenting bisa menuai manfaat untuk anak. (Istockphoto/ Fizkes)

Jakarta, CNN Indonesia --

Pernah dengar orang tua generasi sebelumnya bilang, 'kalau anak nakal ya harus dikerasin biar kapok'?

Ya, generasi lama memang identik dengan pola asuh yang cenderung keras. Tak sedikit juga orang tua jadul yang memberikan hukuman fisik.

Namun, hal tersebut tampaknya tak berlaku lagi untuk saat ini. Kini, makin banyak orang tua yang memilih cara berbeda, dengan lebih tenang, komunikatif, dan minim hukuman fisik. Pola ini dikenal dengan istilah 'gentle parenting'.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Belakangan, istilah ini makin sering muncul di media sosial. Tapi, tidak sedikit juga yang salah paham.

Ada yang beranggapan gentle parenting berarti memanjakan anak atau membiarkan anak bebas tanpa aturan. Padahal, faktanya tidak sesederhana itu.

Bukan memanjakan, tapi membimbing

Dikutip dari CNN, gentle parenting sebenarnya bukan soal membiarkan anak, melainkan tentang mengajarkan keterampilan hidup dengan cara yang lebih empatik.

Pendekatan ini tetap punya batasan, aturan, dan konsekuensi. Bedanya, semua itu disampaikan tanpa kekerasan, dengan komunikasi yang lebih terbuka dan menghargai anak sebagai individu.

Tren ini juga tidak muncul tanpa alasan. Laporan dari Pew Research Center menunjukkan, hampir setengah orang tua berusaha membesarkan anak dengan cara berbeda dari pola asuh yang mereka alami dulu. Kini, orang tua lebih banyak mendengar, lebih sedikit membentak.

Dalam psikologi, pola asuh umumnya dibagi menjadi empat:
- Authoritarian (otoriter): banyak aturan, minim kehangatan
- Permissive (serba boleh): hangat, tapi tanpa batas jelas
- Neglectful (abai): minim perhatian dan aturan
- Authoritative: seimbang antara aturan dan empati

Gentle parenting sering dianggap dekat dengan authoritative parenting: tetap tegas, tapi penuh empati.

Sejumlah penelitian menunjukkan, gentle parenting punya dampak positif, terutama pada anak usia dini. Dalam sebuah kajian pola asuh berjudul 'Gentle Parenting dan Kemandirian Anak Usia Dini', pola asuh ini terbukti membantu anak lebih mandiri,meningkatkan kemampuan mengambil keputusan,serta memperkuat regulasi emosi.

Pola asuh dengan komunikasi terbuka dan empati meningkatkan kemandirian anak usia 4-6 tahun, mulai dari hal sederhana seperti mengurus diri hingga membuat pilihan.

Sementara itu, kualitas interaksi orang tua dan anak sangat menentukan perkembangan kemandirian. Anak yang merasa dihargai cenderung lebih percaya diri dan berani mencoba hal baru.

Meski terdengar lembut, gentle parenting tetap punya batas yang jelas.Pendekatan ini justru menekankan konsistensi aturan, tanggung jawab, dan kemampuan anak memahami konsekuensi.

Tanpa batasan yang jelas, gentle parenting bisa berubah menjadi permisif dan itu justru tidak baik untuk perkembangan anak. Orang tua tetap perlu tegas, tapi tidak dengan cara marah atau menghukum secara berlebihan.

Menariknya, manfaat gentle parenting juga dirasakan oleh orang tua. Penelitian menunjukkan bahwa keluarga yang menerapkan pola ini cenderung:
- memiliki konflik lebih rendah,
- komunikasi lebih terbuka,
- hubungan yang lebih harmonis.

Selain itu, orang tua juga jadi lebih sadar terhadap emosinya sendiri, sehingga stres dalam pengasuhan bisa berkurang.

Gentle parenting mungkin bukan satu-satunya cara. Tapi pendekatan ini menunjukkan satu hal penting: cara orang tua berbicara, mendengar, dan memahami anak bisa berdampak besar pada bagaimana mereka tumbuh di masa depan.

(anm/asr)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |