Jakarta, CNN Indonesia --
Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan total nilai transaksi Sistem Penyelenggara Pasar Alternatif (SPPA) mencapai Rp1.382,1 triliun sepanjang 2025. Angka tersebut meningkat sebesar 461,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
"Sepanjang tahun 2025, SPPA juga menunjukkan peningkatan kinerja transaksi yang signifikan dengan total nilai transaksi mencapai Rp1.382,1 triliun atau meningkat sebesar 461,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya," ujar Direktur Pengawasan Transaksi dan Kepatuhan BEI Kristian S. Manullang dalam acara SPPA Award 2025 di Gedung BEI, Jakarta Selatan, Senin (13/4).
Manullang mengungkapkan peningkatan jumlah transaksi tersebut karena terimplementasinya transaksi Repurchase Agreement (Repo) pada 10 Maret 2025 lalu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Peningkatan jumlah transaksi ini disebabkan oleh telah terimplementasinya transaksi Repurchase Agreement atau Repo pada tanggal 10 Maret 2025 di SPPA dengan total nilai transaksi mencapai Rp751,6 triliun," terangnya.
Kemudian, nilai transaksi outright atau jual-beli putus juga melesat 196,2 persen year-on-year menjadi Rp630,5 triliun. Adapun pangsa pasar transaksi outright setara 23 persen dan transaksi REPO sebesar 28 persen.
Manullang mengatakan peningkatan nilai transaksi tersebut merupakan dukungan dari berbagai pihak yang memanfaatkan SPPA sebagai platform untuk transaksi Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) dan REPO dengan underlying Surat Utang Negara (SUN).
"Menjawab kebutuhan industri atas sebuah platform transaksi yang terstandardisasi, aman, transparan, dan efisien sekaligus memperkuat likuiditas dan pendalaman pasar surat utang dan pasar uang Indonesia," ujar Manullang.
Lebih lanjut, ia menegaskan BEI terus mengembangkan SPPA sebagai bisnis penyelenggara pasar alternatif sebagai sarana perdagangan resmi di pasar sekunder untuk instrumen surat utang. Adapun SPPA akan terus mengacu terhadap regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Saat ini, SPPA telah mengakomodasi perdagangan surat utang oleh 39 pengguna jas, dengan 14 di antaranya merupakan pengguna jasa REPO. Pengguna jasa SPPA pun terdiri dari Bank Umum, Bank Pembangunan Daerah, dan Sekuritas.
"Baik dengan mekanisme order book sampai dengan mekanisme bilateral OTC trading dan menjadikan SPPA sebagai platform dengan mekanisme matching yang paling lengkap khususnya untuk instrumen OTC," imbuhnya.
(fln/sfr)
Add
as a preferred source on Google

3 hours ago
5

















































