Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso berharap harga plastik bisa turun pada April ini seiring upaya Indonesia mencari alternatif sumber impor bahan baku biji plastik, nafta, selain Timur Tengah.
Budi mengatakan selama ini pasokan nafta banyak berasal dari Timur Tengah. Namun, pengiriman terganggu akibat perang Iran melawan AS dan Israel.
Karenanya, pemerintah mencari sumber impor baru dari India, Amerika Serikat, dan Afrika.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Mudah-mudahan (harga plastik bisa turun bulan ini)," ujar Budi di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Senin (13/4).
Ia menjelaskan impor dari ketiga wilayah tersebut saat ini masih dalam proses. Pemerintah masih menunggu ketersediaan stok dari negara asal sebelum pengiriman dilakukan.
Selain itu, proses pengapalan juga diperkirakan lebih lambat karena perang di Timur Tengah. Dengan demikian, impor bahan baku baru belum terealisasi dan produsen plastik dalam negeri masih harus mengandalkan stok yang sekarang mereka miliki.
Budi menambahkan pemerintah juga terus mencari sumber alternatif lain selain tiga wilayah tersebut melalui perwakilan perdagangan di berbagai negara.
Ia mengakui Indonesia juga harus bersaing dengan negara produsen plastik lain seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura dalam mendapatkan pasokan nafta.
"Kita terus mencari (dari) negara lain yang bisa mensuplai untuk bahan baku biji plastik," ujar Budi.
Ditemui di tempat sama, Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan Minuman Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman menyebut kenaikan harga plastik menjadi sesuatu yang rumit, khususnya bagi pelaku industri makanan dan minuman.
Pelaku industri telah menerima laporan dari pemasok plastik bahwa bahan baku mereka mulai menipis. Kondisi ini membuat pelaku usaha kesulitan dalam penyediaan kemasan karena dari pemasok sudah mematok harga yang tinggi.
"Dari beberapa pemasok ada yang bilang, terakhir bulan Mei atau Juni sudah habis (stok punya mereka). Ini yang harus dicarikan solusinya," ujar Adhi.
Ia menyebut kenaikan harga plastik bervariasi, mulai dari sekitar 30 persen hingga 60 persen, bahkan ada yang mencapai 100 persen. Berdasarkan laporan anggota GAPMMI, biaya kemasan plastik untuk produk makanan beku hampir melonjak 100 persen.
Di sisi lain, pelaku industri makanan dan minuman tidak dapat menaikkan harga produk setinggi kenaikan biaya kemasan tersebut.
Pasalnya, jika kemasan plastik menyumbang sekitar 25 persen dari harga produk, maka kenaikan harga jual akan menjadi sangat tinggi. Kenaikan harga yang terlalu besar berpotensi membuat produk sulit terjual.
Meski demikian, ia menyebut sebagian pelaku usaha makanan dan minuman sudah ada yang mulai melakukan penyesuaian harga akibat kenaikan biaya plastik. Ia menerima laporan bahwa harga sejumlah komoditas seperti beras dan minyak goreng mulai meningkat karena menggunakan kemasan plastik.
"Itu bukan (harga) barang yang naik, tapi kemasannya yang naik, sehingga ini terjadi kenaikan di pasar," ujar Adhi.
(dhz/sfr)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
4

















































