Jakarta, CNN Indonesia --
Sejumlah wilayah di Indonesia saat ini masih berada dalam periode puncak musim hujan. Namun, sampai kapan musim hujan masih akan mengguyur berbagai daerah di Tanah Air?.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat beberapa wilayah mengalami hujan dengan intensitas lebat dalam beberapa hari terakhir, yakni berkisar 50-100 mm per hari.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selama periode 6-9 Maret 2026, BMKG mencatat kejadian hujan dengan intensitas lebat hingga sangat lebat di sebagian wilayah Indonesia. Pada periode tersebut, curah hujan harian pada kategori sangat lebat teramati di wilayah Banten (141.8 mm/hari) dan Jakarta Timur (123.4 mm/hari).
Selain itu, curah hujan lebat teramati di Sulawesi Selatan (84.4 mm/hari),
Bengkulu (82.9 mm/hari), Jambi (78 mm/hari), Sumatra Utara (73.2 mm/hari), dan Jawa Timur (59.8 mm/hari).
BMKG menjelaskan, hujan lebat yang terjadi di berbagai wilayah tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer Indonesia, baik pada skala global, regional, maupun lokal.
Untuk wilayah Indonesia bagian barat, puncak musim hujan telah dimulai sejak November hingga Desember. Sementara itu, wilayah Indonesia bagian selatan dan timur diprediksi mengalami puncak musim hujan pada Januari hingga Februari.
Kapan musim hujan berakhir?
BMKG memprediksi peralihan dari musim hujan ke musim kemarau akan dimulai pada akhir Maret hingga April 2026. Menurut BMKG sebagian wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan awal musim kemarau tahun depan diprediksi datang lebih cepat dibandingkan rata-rata klimatologis 30 tahun terakhir.
"Awal musim kemarau di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi datang lebih awal atau maju, yaitu di 325 ZOM atau 46,5 persen dari keseluruhan zona musim," ujar Faisal dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (4/3).
Dari total 699 zona musim di Indonesia, sekitar 173 ZOM atau 24,7 persen diperkirakan mengalami awal kemarau yang sama dengan periode normal. Sementara 72 ZOM atau 10,3 persen wilayah lainnya diprediksi mengalami musim kemarau yang datang lebih lambat.
BMKG memperkirakan sekitar 114 ZOM atau 16,3 persen wilayah Indonesia akan mulai memasuki musim kemarau pada April 2026. Wilayah tersebut antara lain pesisir utara Jawa bagian barat, sebagian Jawa Tengah hingga Jawa Timur, Bali, serta Nusa Tenggara.
Kemudian pada Mei 2026, sebanyak 184 ZOM atau 26,3 persen wilayah diprediksi mulai mengalami musim kemarau, disusul 163 ZOM atau 23,3 persen wilayah pada Juni 2026.
Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menjelaskan bahwa awal musim kemarau yang lebih cepat dapat membuat durasinya menjadi lebih panjang.
"Kesimpulan umum dari musim kemarau 2026 yang akan kita hadapi ini, kita prediksi maju atau lebih awal. Sehingga pada banyak tempat dia juga menjadi lebih panjang karena awalnya itu maju," jelasnya.
Selain itu, BMKG juga memprediksi musim kemarau 2026 cenderung lebih kering dibandingkan biasanya.
Sebanyak 451 zona musim atau sekitar 64,5 persen wilayah Indonesia diprakirakan mengalami curah hujan di bawah normal selama periode kemarau.
"Kondisinya kemaraunya tidak seperti tahun 2025. Untuk tahun 2026 ini seperti tadi kami sampaikan, kondisinya keringnya di bawah normal dan normal," kata Ardhasena.
BMKG mengimbau pemerintah daerah dan sektor terkait untuk melakukan langkah antisipasi sejak dini, terutama pada sektor pertanian, sumber daya air, energi, lingkungan, serta kebencanaan.
"BMKG mengimbau agar informasi prediksi musim kemarau 2026 ini dapat dijadikan sebagai bentuk peringatan dini atau early warning dan dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan untuk aksi dini atau early action," tegas Ardhasena.
(wpj/dmi)

2 hours ago
1
















































