Jakarta, CNN Indonesia --
Tim peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi (PRKG) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menemukan bukti fisik aktivitas tektonik dan vulkanik zaman Kuarter di Gunung Ciremai, tepatnya di wilayah Lingkar Timur Kuningan, Jawa Barat. Temuan ini dinilai penting untuk mendukung mitigasi bencana di kawasan tersebut.
Ketua tim penelitian sekaligus Peneliti Ahli Muda PRKG Sonny Aribowo mengatakan, riset ini berangkat dari minimnya data usia endapan gunung api di Pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Endapan gunung api yang terganggu oleh patahan, dapat bercerita tentang sejarah masa lalu dan perulangan gempa bumi," kata Sonny, melansir laman resmi BRIN, Senin (11/5).
Riset ini bertujuan mengetahui umur endapan gunung api Ciremai yang terganggu aktivitas tektonik. Deformasi tektonik di kaki Gunung Ciremai bukan sekadar aktivitas masa lalu, melainkan proses yang terekam secara sistematis dalam lapisan tanah.
Ia mengatakan riset ini dilakukan dengan metode geokronologi dan pemetaan LiDAR presisi tinggi terhadap endapan distal Gunung Ciremai. Melalui metode carbon dating, ditemukan bahwa endapan berumur 22.000 tahun berada di atas endapan berumur 20.000 tahun, sebuah kebalikan dari urutan normal.
Posisi ini merupakan bukti kuat aktivitas sesar naik (thrusting) yang terjadi setelah periode 20.000 tahun lalu, di mana lapisan yang lebih tua terdorong ke atas lapisan yang lebih muda.
"Selain sesar naik, ditemukan juga bukti sesar normal pada endapan berumur sekitar 16.000 tahun, yang mengindikasikan adanya fase penyeimbangan sedimen setelah tekanan tektonik besar, atau kemungkinan jejak kejadian gempa bumi besar pada periode tersebut," jelas dia.
Patahan tersembunyi
Penggunaan teknologi LiDAR juga memungkinkan tim melihat fitur permukaan Bumi tanpa terhalang vegetasi. Hasilnya menunjukkan kemiringan lapisan dan patahan yang jelas pada morfologi lahan di kawasan Lingkar Timur Kuningan.
"Data radiokarbon dan LiDAR ini memberikan pembaruan penting terhadap kronologi erupsi Gunung Ciremai. Temuan ini menunjukkan bahwa fase deformasi tektonik di wilayah Kuningan berlangsung beriringan dengan sejarah vulkanisme gunung tersebut," kata Sonny.
Menurut Sonny, wilayah sekitar Gunung Ciremai, khususnya area Kuningan, memiliki kompleksitas geologi yang tinggi. Integrasi antara data erupsi eksplosif (sejak 40.800 tahun lalu hingga periode sejarah) dan data sesar aktif sangat krusial.
Data tersebut dapat digunakan untuk menyusun tata ruang permukiman yang lebih aman, memperkirakan periode ulang gempa darat di jalur sesar aktif, serta meningkatkan sistem peringatan dini berbasis risiko multi-bahaya, baik vulkanik maupun tektonik.
"Harapannya, semakin banyak data umur batuan yang terganggu oleh aktivitas tektonik, maka periode perulangan dan sejarah kegempaan dapat diketahui dengan lebih baik. Dengan demikian, potensi bahaya gempa dan vulkanik dapat dievaluasi secara lebih baik untuk mendukung pembangunan di masa depan," ujar Sonny.
Komposisi geokimia
Riset ini juga membedakan karakteristik material antara endapan jauh (distal) dan endapan dekat (proksimal) Gunung Ciremai. Berdasarkan analisis unsur jejak di diagram TAS, endapan distal tergolong sebagai sedimen vulkanik basaltik sub-alkalin dengan kandungan besi tinggi dan silika rendah.
Sementara itu, endapan proksimal, berdasarkan studi sebelumnya dalam Disertasi Wildan Hamzah, menunjukkan bahwa area dekat puncak didominasi oleh batuan andesit basaltik dengan seri magma medium-K.
Komposisi geokimia ini membantu peneliti menelusuri asal-usul material serta arah aliran erupsi purba Gunung Ciremai. Namun, hubungan antara endapan distal dan proksimal masih perlu dikaji lebih lanjut karena perbedaan karakteristik.
Endapan distal yang berumur sekitar 15.000 tahun menunjukkan bahwa pernah terjadi letusan pada periode tersebut.
(dmi/dmi)
Add
as a preferred source on Google

8 hours ago
1

















































