CNN Indonesia
Jumat, 04 Apr 2025 12:35 WIB

Jakarta, CNN Indonesia --
Sehari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengumumkan kebijakan tarif baru, muncul spekulasi bahwa nilainya didapat berdasarkan hasil hitungan Kecerdasan Buatan (AI).
Trump pada Rabu (2/4) waktu setempat mengumumkan dua tarif baru. Tarif pertama adalah universal senilai 10 persen yang berlaku untuk 180 negara, dan tarif kedua adalah resiprokal (timbal-balik) yang berlaku untuk 60 negara yang nilainya berbeda-beda.
Saat mengumumkan tarif resiprokal, Trump memegang papan yang berisikan dua kolom, yaitu kolom tarif yang dikenakan suatu negara terkait untuk AS, dan kolom tarif resiprokal dari AS yang nilainya separuhnya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Trump tidak pernah menjelaskan secara rinci asal-usul angka di kolom pertama.
Dikutip dari The Verge, angka itu disebut sama dengan perhitungan yang disederhanakan yang ditanyakan kepada AI Chatbot.
Hal ini diungkap oleh Ekonom James Surowiecki yang coba merekayasa ulang pertanyaan tersebut.
Menurutnya, tarif yang diumumkan Trump sama dengan angka defisit perdagangan suatu negara dengan AS yang dibagi dengan total ekspor mereka ke AS.
"Lalu bagilah angka itu menjadi dua, dan Anda akan mendapatkan tarif timbal balik yang didiskon yang siap pakai," dikutip dari The Verge, Jumat (4/4).
Gedung Putih menolak temuan itu dan mengungkap rumus yang mereka gunakan. Tetapi seperti yang diberitakan Politico, rumus tersebut tampak seperti versi 'hiasan' dari metode Surowiecki.
Pemerintahan Trump diduga menggunakan AI karena perhitungan tarif ini harus diselesaikan dalam waktu singkat, sehingga mereka tergoda oleh AI.
Sejumlah pengguna X dilaporkan juga menyadari hal itu. Jika bertanya dan meminta ChatGPT, Gemini, Claude, atau Grok untuk memecahkan defisit perdagangan dan menempatkan AS pada level yang setara, mereka akan memberikan rumus defisit dibagi ekspor.
The Verge menguji dengan menanyakan kepada chatbot "cara mudah bagi AS untuk menghitung tarif yang harus dikenakan pada negara lain guna menyeimbangkan defisit perdagangan bilateral antara AS dan masing-masing mitra dagangnya, dengan tujuan mendorong defisit perdagangan bilateral menjadi nol."
Keempat platform tersebut memberi rumusan dasar yang sama.
(yoa/vws)