Anggie Ariesta
, Jurnalis-Senin, 12 Januari 2026 |12:33 WIB

Mitigasi Risiko bagi Perbankan (Foto: Okezone)
JAKARTA - Lanskap perdagangan internasional kini tengah menghadapi perubahan besar yang menuntut adaptasi cepat dari para pelaku usaha dan sektor perbankan.
Chairman ICC Banking Commission Indonesia, Herry Hykmanto memaparkan tiga tantangan utama saat ini yaitu volatilitas geopolitik serta perubahan kebijakan negara, diversifikasi rantai pasok global yang tidak lagi terpusat pada satu wilayah, serta munculnya negara berkembang sebagai pusat pertumbuhan baru.
Herry menekankan pentingnya pengelolaan risiko yang cermat, terutama saat pelaku usaha mulai merambah pasar baru dengan profil risiko lebih tinggi. Dalam kondisi ini, instrumen seperti penjaminan (guarantee) dan asuransi ekspor menjadi sangat krusial.
“Penjaminan dan asuransi memungkinkan pelaku usaha memasuki pasar baru, mengikuti tender internasional, dan mengurangi risiko pembayaran,” ujar Herry dalam keterangan resmi, Senin (12/1/2026).
Senada dengan tantangan tersebut, Executive Vice President Indonesia Eximbank, Suharyanto menyoroti terjadinya pergeseran metode pembayaran dari yang semula berbasis Letter of Credit (LC) menjadi non-LC. Transformasi ini dipicu oleh pesatnya teknologi digital yang membuat proses transaksi menjadi lebih ringkas.
“Saat ini perdagangan internasional juga tengah masuk ke dalam era digitalisasi, di mana cara penagihan secara konvensional (fisik) melalui kurir, mulai ditinggalkan dan diganti dengan penagihan secara digital. Eksportir dan importir dapat bersepakat agar proses penagihan dilakukan melalui daring dengan mengunggah dokumen-dokumen antara lain dokumen pengapalan dan tagihan (invoice), melakukan approval hingga memantau payment schedule. Dengan demikian arus transaksi akan semakin efisien, cepat, dan aman,” jelas Suharyanto.


















































