Jakarta, CNN Indonesia --
Menteri Energi Amerika Serikat (AS) Chris Wright memperkirakan harga minyak akan terus naik dan menyentuh puncak tertinggi dalam beberapa pekan ke depan.
Wright mengatakan harga minyak kemungkinan akan terus naik hingga kapal-kapal tanker bisa kembali bisa melintasi Selat Hormuz yang saat ini diblokade.
"Kita akan melihat harga energi tetap tinggi, bahkan mungkin terus naik hingga ada lalu lintas kapal yang signifikan melalui jalur perairan penting tersebut," kata Wright dalam konferensi Semafor World Economy di Washington, DC, dikutip CNN, Senin (13/4).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setelah itu, harga minyak akan mencapai titik puncak dalam beberapa pekan ke depan," imbuhnya.
Sebulan lalu, Wright mengatakan ada peluang sangat besar soal harga bensin di Amerika bisa turun hingga setidaknya US$3 per galon pada musim panas.
Namun, kini ia memperingatkan harga bensin kemungkinan akan terus naik dan bertahan tinggi selama beberapa bulan ke depan.
Harga minyak umumnya menjadi acuan bagi harga bahan bakar. Pasalnya, minyak merupakan komponen biaya utama yang menentukan harga di SPBU.
Minyak mentah berjangka Brent yang menjadi patokan global, telah naik sekitar 40 persen sejak perang dimulai pada 28 Februari lalu gara-gara invasi AS dan Israel ke Iran.
Hari ini, harga minyak Brent turun US$1,86 atau 1,87 persen menjadi US$97,50 per barel.
Data Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) menunjukkan pada Maret produksi minyak mentah negara anggota turun.
Penurunan produksi disebabkan gangguan yang dipicu agresi AS dan Israel ke Iran. Provokasi itu memicu pembalasan oleh Teheran dan berujung perluasan konflik di kawasan Timur Tengah.
Pada Maret 2026, total produksi OPEC sekitar 20,79 juta barel per hari (bph), turun sekitar 7,9 juta bph dibandingkan Februari 2026. Penurunan produksi terbesar terjadi di Irak, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), dan Kuwait.
Produksi minyak Irak anjlok sekitar 2,56 juta bph menjadi sekitar 1,63 juta bph, sementara produksi Arab Saudi turun sekitar 2,3 juta bph menjadi 7,8 juta bph.
Kemudian, produksi minyak UEA turun sekitar 1,53 juta bph menjadi 1,89 juta bph, dan produksi Kuwait menyusut sekitar 1,37 juta bph menjadi 1,2 juta bph pada Maret.
Sementara itu, produksi minyak Iran juga turun 182 ribu bph menjadi sekitar 3,06 juta bph di tengah perangnya melawan AS dan Israel.
Di antara anggota OPEC, hanya Venezuela dan Nigeria yang mencatat kenaikan produksi harian selama Maret. Produksi Venezuela naik 79 ribu bph menjadi 988 ribu bph, sementara Nigeria meningkat 22 ribu bph menjadi 1,46 juta bph.
OPEC mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global untuk 2026, dengan kenaikan sebesar 1,38 juta bph menjadi total 106,53 juta bph pada 2026.
Untuk 2027, OPEC memperkirakan permintaan akan tumbuh sekitar 1,34 juta bph menjadi 107,87 juta bph, dengan negara non-OECD mencapai 61,7 juta bph dan negara OECD sekitar 46,17 juta bph.
(pta/ins)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
8

















































