IDAI: Dampak Kekerasan pada Anak di Daycare Luas, Tak Sekadar Cedera

19 hours ago 1

CNN Indonesia

Kamis, 30 Apr 2026 10:45 WIB

Ketua UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, mengatakan dampak kekerasan pada anak di day care sangat luas. Ilustrasi. Ketua UKK Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, mengatakan dampak kekerasan pada anak di day care sangat luas. (istockphoto/kieferpix)
Daftar Isi

Jakarta, CNN Indonesia --

Kasus kekerasan terhadap anak di daycare kembali menyorot lemahnya sistem pengawasan dan standar pengasuhan di sejumlah fasilitas penitipan anak di Indonesia.

Ketua Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang Pediatri Sosial IDAI, Fitri Hartanto, menekankan bahwa dampak kekerasan pada anak di daycare dapat berlangsung sangat luas.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dampaknya tidak hanya pada fisik anak, tetapi juga perkembangan otak dan psikologis. Apalagi fase awal kehidupan anak merupakan periode paling rentan terhadap trauma yang menetap.

"Jadi, dampak langsung ketahuan pada saat ini. Kalau self-abuse nya berat, bisa sampai kematian, dan hampir lima persen anak mengalami self-abuse yang menyebabkan kematian. Dua puluh lima persennya sampai patah tulang, luka bakar, dan ada terjadinya kerusakan menetap pada susunan," tutur Fitri dalam paparannya pada Rabu (29/4).

Data ini menunjukkan, kekerasan di lingkungan pengasuhan bukan sekadar pelanggaran etik, tetapi dapat berujung pada konsekuensi yang mengancam nyawa.

Berikut merupakan beberapa dampak kekerasan pada anak di daycare berdasarkan pemaparan Fitri:

1. Risiko kematian dan cedera fisik berat

Kekerasan pada anak dapat berdampak langsung dan sangat fatal, mulai dari cedera ringan hingga kondisi yang mengancam jiwa.

Fitri menjelaskan, sebagian kasus bahkan berujung pada kematian anak akibat kekerasan berat yang tidak tertangani.

Selain itu, sekitar seperempat kasus mengalami komplikasi serius, seperti patah tulang, luka bakar, hingga disabilitas permanen yang memengaruhi kualitas hidup anak dalam jangka panjang.

2. Kerusakan sistem saraf yang bersifat permanen

Dampak paling mengkhawatirkan dari kekerasan, yakni kerusakan pada sistem saraf anak yang bersifat menetap. Kondisi ini terjadi pada masa perkembangan otak yang sangat cepat, sehingga efeknya dapat berlangsung seumur hidup.

Dalam kondisi ini, anak berisiko mengalami gangguan perkembangan serius, termasuk keterlambatan intelektual, gangguan belajar, hingga gangguan fungsi motorik dan sensorik.

3. Gangguan pertumbuhan fisik

Selain dampak neurologis, kekerasan juga memengaruhi pertumbuhan fisik anak secara keseluruhan. Anak yang mengalami kekerasan cenderung menunjukkan pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan anak seusianya.

Kondisi ini berkaitan erat dengan stres kronis yang mengganggu keseimbangan hormon serta proses perkembangan tubuh anak.

4. Gangguan emosi pada usia 2-5 tahun

Pada usia dini, dampak kekerasan sangat terlihat dalam bentuk perubahan perilaku dan emosi. Anak menjadi lebih cemas, mudah menangis, dan sangat bergantung pada orang tua.

Banyak anak juga mengalami regresi perkembangan seperti kembali mengisap jempol, mengompol lagi, hingga mengalami mimpi buruk atau gangguan tidur.

5. Dampak pada usia 6-12 tahun

Pada usia sekolah, trauma akibat kekerasan dapat berkembang menjadi gangguan psikologis yang lebih kompleks. Anak bisa mengalami kesulitan konsentrasi, depresi, hingga perilaku menarik diri dari lingkungan sosial.

Dalam kondisi tertentu, muncul pula agresivitas, gangguan tidur, bahkan keinginan menyakiti diri sendiri pada kasus yang berat.

6. Dampak kognitif, sosial, dan perilaku

Kekerasan pada anak juga berdampak langsung pada kemampuan kognitif dan sosial. Hal ini ditandai dengan adanya penurunan fungsi memori kerja, kemampuan berpikir, hingga prestasi akademik.

Dari sisi sosial emosional, anak bisa mengalami gangguan attachment, kesulitan mengelola emosi, serta kecenderungan menarik diri atau menunjukkan perilaku agresif.

Dampak kekerasan tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Trauma yang tidak tertangani dapat terbawa hingga remaja dan dewasa, memengaruhi hubungan sosial, kesehatan mental, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.

"Ada banyak hal di sini yang harus kita lakukan untuk melindungi anak supaya tercapai masa depan yang lebih baik lagi," kata Fitri.

Dengan berbagai risiko tersebut, ia menegaskan pencegahan kekerasan di daycare harus menjadi prioritas utama dalam sistem perlindungan anak di Indonesia.

(nga/rti)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNN]

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |