Jakarta, CNN Indonesia --
Wapres ke-10 dan ke-12 RI Jusuf Kalla (JK) menggelar pertemuan dengan tokoh tokoh perundingan damai konflik Poso dan Ambon pada awal 2000an silam.
Pertemuan itu digelar di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4). JK mengatakan pertemuan ini dilakukan untuk memberikan penjelasan kepada khalayak mengenai konteks ceramah JK di masjid UGM yang viral.
Tokoh-tokoh yang hadir mulai Pendeta John Ruhulessin dari Gereja Protestan Maluku, Pendeta Rinaldi Damanik selaku delegasi dalam Perundingan Malino I, serta Ustaz Sugiyanto Kaimuddin selaku delegasi muslim dalam Perundingan Malino I.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi apa yang disampaikan ya keadaan pada waktu itu. Jadi semua tadi (tokoh-tokoh yang hadir) malah menangis bahwa kalau saya tidak selesaikan [mediasi perdamaian konflik Poso dan konflik Ambon], bayangkan mereka. Nah itu, itu pembicaraan tadi," jelas JK kepada wartawan seusia pertemuan di Hotel JS Luwansa, Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4).
"Dan semua sepakat bahwa ini [terduga pemfitnah dirinya] harus dilawan, semua yang mau macam-macam itu," sambungnya.
JK mengatakan dalam pertemuan hari ini, semua tokoh yang ikut dalam perundingan damai Poso dan Ambon--Malino I dan Malino II--sepakat bahwa isi ceramahnya di Masjid UGM pada Ramadan lalu tak ada kaitannya dengan penistaan agama.
Pria yang juga Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia (DMI) itu menegaskan semua tudingan terhadap dirinya yang diduga menistakan agama tidaklah benar.
"Pokoknya dia [pihak-pihak yang menuding] harus paham, bahwa apa yang dilaporkan itu semua tidak benar. Orang pelakunya [tokoh perundingan] sendiri, Ketua Sinode, imam masjid yang ada waktu itu, yang menyatakan bahwa begini keadaan sebenarnya," jelas JK.
"Ade Armando ngomong seenaknya saja. Dia bilang lagi bahwa diperintahkan. Siapa yang bilang diperintahkan? Diperintahkan mati, nah, makin gila dia ngomong," imbuh dia.
Dia pun berharap kesaksian yang disampaikan para tokoh yang terlibat dalam perundingan damai dapat mencerahkan masyarakat mengenai tudingan penistaan agama dalam konteks isi ceramah JK di masjid UGM.
"Mereka tadi, teman-teman para tokoh agama itu, diharapkan untuk mensosialisasikan, tentu lewat Anda semua media, untuk apa itu, agar masyarakat memahami, jangan mau dipecah belah oleh orang-orang yang memfitnah itu," katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Pendeta John menerangkan apa yang dikemukakan JK dalam ceramah di masjid UGM menyangkut konflik di Maluku dan Poso. Pendeta John menyebut ceramah JK itu tidak menyangkut hal lain, termasuk dugaan penistaan agama.
John menilai saat itu apabila doktrin agama benar-benar diberlakukan sebagaimana mestinya, dirinya meyakini tidak akan terjadi konflik di Maluku. Dia menjelaskan, saat konflik pada saat itu terjadi, doktrin yang diterima memang tak sesuai tuntunan sebenarnya.
"Saya mau menegaskan, apa yang dikemukakan oleh Pak JK tidak sama sekali bermaksud menista agama Kristen dalam hal ini. Saya kira itu kesaksian saya, kesaksian saya, dan Pak JK sama sekali tidak bermaksud untuk membicarakan dogma agama atau doktrin agama," tutur Pendeta John.
"Beliau hanya merekam dan melihat fakta yang terjadi di tengah-tengah masyarakat bahwa orang saling membunuh karena legitimasi-legitimasi agama yang dia pakai. Saya kira itu yang mau saya kemukakan," sambungnya.
Senada dengan Pendeta John, Pendeta Rinaldi juga menilai yang disampaikan JK di Masjid UGM bukanlah sebuah pernyataan teologis yang mengajarkan doktrin. Menurutnya, jika ceramah tersebut didengar secara utuh, maka dapat dipahami bahwa yang disampaikan JK merupakan analisis sosiologis tentang realitas pahit konflik secara khusus di Poso dan di Ambon.
"Dan apa yang disampaikan oleh Pak JK kurang lebih kalimatnya tentang berkonflik dengan alasan syahid masuk surga itu, itu memang terjadi dalam konflik itu. Seperti tadi Bapak Pendeta katakan, itu memang benar-benar terjadi dalam realitas itu," ujar Pendeta Rinaldi.
"Enggak usah jauh-jauhlah. Saya pun sendiri berani ke mana-mana, karena saya yakin waktu itu saya pasti masuk surga. Itu dia. Dan banyak orang waktu itu minta didoakan. Dan kami pakai jubah dan mendoakan mereka karena mereka yakin bahwa membunuh orang dan terbunuh pun akan masuk surga. Itu yang terjadi pada waktu itu," ungkapnya.
Ustaz Sugiyanto menyampaikan bahwa konflik yang terjadi khususnya di Poso saat ini sudah selesai. Dia mengatakan, yang disampaikan JK dalam ceramahnya adalah murni kondisi di lapangan pada saat itu.
"Sesungguhnya urusan kerusuhan Poso clear, tidak ada yang perlu dibicarakan. Karena apa yang disampaikan oleh Pak JK itu adalah fakta lapangan. Di sana teriak 'Darah Yesus', di sebelah berteriak 'Allahu Akbar'," tutur Ustaz Sugiyanto.
"Semuanya karena ambisi, semuanya karena dendam, kemarahan yang kemudian dipoles dengan agama. Maka apa yang disampaikan itu fakta, tidak ada yang salah, tapi ketika itu," imbuhnya.
Sebelumnya, DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) bersama sejumlah organisasi melaporkan JK ke kepolisian. Ketua Umum GAMKI Sahat Sinurat menyebut pernyataan JK dinilai menyinggung ajaran Kristen dan menimbulkan kegaduhan dalam ceramah di Masjid UGM yang membicarakan konflik Poso dan Ambon. Ia menegaskan ajaran Kristen tidak pernah membenarkan membunuh sebagai jalan menuju surga.
Selain itu, pada 14 April lalu laporan serupa muncul dari Sumut. Sejumlah organisasi yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Sipil Sumatra Utara ikut melaporkan JK ke Polda Sumut dengan tuduhan menistakan ajaran agama.
Konflik Poso, Sulawesi Tengah, terjadi kurun waktu sekitar 1998-2001. Kerusuhan komunal itu kerap dinilai sebagai konflik bernuansa agama. Namun akar masalahnya disebutkan terkait ketimpangan ekonomi, persaingan politik lokal, serta dampak program transmigrasi yang mengubah demografi wilayah tersebut.
Pada 2001, JK yang masih menjabat Menko Kesra dalam kabinet kepresidenan Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri memimpin proses mediasi di Malino, Sulawesi Selatan. JK yang juga tokoh Sulawesi itu kemudian berhasil mendorong Deklarasi Malino I setelah mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen yang berkonflik untuk bersepakat berdamai.
Sementara itu konflik Ambon merupakan kerusuhan komunal yang bermula dari perselisihan individu kemudian cepat meluas dengan menjadi prahara bernuansa agama di provinsi Maluku kurun waktu sekitar 1999 hingga 2002.
JK yang kala itu menjabat Menko Kesra kemudian mengumpulkan tokoh Islam dan Kristen dari Ambon untuk mediasi di Malino. Hasilnya adalah kesepakatan perdamaian atau Deklarasi Malino II pada 12 Februari 2002.
Merespons ramai ceramah JK, admin kanal YouTube Masjid Kampus UGM menyampaikan pesannya melalui kolom komentar yang disematkan mulai Senin (12/4).
"Jemaah sekalian, kami mohon dengan sangat untuk menyimak video secara utuh, bukan hanya potongan-potongan yang beredar. Seringkali cuplikan yang tidak lengkap dapat menimbulkan kesalahpahaman karena konteks pembicaraan tidak tersampaikan dengan baik," tulis admin dalam kolom komentar.
CNNIndonesia.com telah meminta izin kepada Ketua Takmir Masjid UGM, Muhammad Yusuf untuk mengutip isi dari komentar tersebut.
Baca berita lengkapnya di sini.
(kid/ugo)
Add
as a preferred source on Google

4 hours ago
4
















































