Lebaran dan Teror Halus Pertanyaan 'Kapan Nikah?'

2 hours ago 2

CNN Indonesia

Kamis, 19 Mar 2026 13:05 WIB

Pertanyaan 'kapan nikah?' saat Lebaran bisa terasa ringan, tapi bagi sebagian orang justru menjadi tekanan sosial yang tak sederhana. Foto: iStockphoto/ibnjaafar

Jakarta, CNN Indonesia --

Lebaran selalu identik dengan hangatnya pertemuan keluarga. Tawa, cerita, dan hidangan khas seolah menjadi perekat yang menyatukan kembali hubungan yang sempat renggang oleh waktu.

Namun di balik suasana akrab itu, ada satu pertanyaan yang nyaris tak pernah absen: 'kapan nikah?'

Kalimat ini sering meluncur begitu saja di sela percakapan. Terdengar ringan, bahkan kadang dibumbui tawa. Tetapi bagi sebagian orang, pertanyaan itu tidak selalu terasa sesederhana cara penyampaiannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pertanyaan itu kerap datang tiba-tiba, biasanya di sela obrolan ringan. Kadang disampaikan sambil bercanda, kadang juga diikuti pertanyaan lain yang tak kalah klasik, 'kapan punya anak?' 'Kapan punya anak kedua?' Dan merembet ke pertanyaan yang sebenarnya bersifat personal lainnya.

Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin terasa seperti candaan keluarga. Tetapi bagi yang mendengarnya berulang kali, situasi itu bisa berubah menjadi tekanan yang tak selalu nyaman.

Alifya (24) cukup akrab dengan pengalaman tersebut. Setiap kali berkumpul bersama keluarga besar, topik yang sama hampir selalu muncul.

"Sering, sering. Sering ditanya," kata Alifya ketika menceritakan pengalamannya kepada CNNIndonesia.com, Minggu (15/3).

Pertanyaan itu biasanya datang dari keluarga dekat seperti om, tante, atau sepupu yang lebih tua. Awalnya, ia merasa kesal karena topik yang sama terus diulang setiap kali ada pertemuan keluarga.

"Awalnya sih kesel, ya. Soalnya ngerasa, kenapa sih topiknya itu terus," ujarnya.

Bagi Alifya, situasi itu pernah terasa cukup mengganggu. Ia merasa pertanyaan tersebut seolah menjadi topik wajib setiap kali keluarga berkumpul.

Namun seiring waktu, ia mencoba menghadapi situasi itu dengan cara berbeda. Daripada menjelaskan panjang lebar atau menunjukkan rasa kesal, ia memilih menjawab dengan santai, bahkan bercanda.

"Sekarang aku mensiasati pertanyaan seperti itu dengan jawaban santai saja. Kayak, 'ya doain cepat, ya. Makanya sumbangannya,' gitu-gitu sih," katanya.

Bagi Alifya, cara tersebut menjadi strategi sederhana agar momen berkumpul bersama keluarga tetap terasa nyaman.

Meski begitu, ia memahami mengapa pertanyaan itu sering muncul. Di lingkungannya, banyak orang menikah tidak lama setelah menyelesaikan kuliah. Hal tersebut membuat pernikahan kerap dipandang sebagai langkah berikutnya setelah pendidikan selesai.

"Di lingkungan kami, setelah kuliah selesai, banyak orang yang memutuskan untuk menikah. Jadi anggapannya lulus kuliah itu menikah," ujarnya.

Pandangan seperti itu membuat pernikahan sering diposisikan sebagai tahap penting dalam perjalanan hidup seseorang. Ketika seseorang belum menikah, pertanyaan tentang hal tersebut pun mudah muncul dalam percakapan keluarga.

Padahal, bagi sebagian anak muda, masa setelah lulus kuliah justru menjadi waktu untuk mencoba berbagai kemungkinan. Ada yang ingin fokus membangun karier, ada pula yang memilih mengejar pengalaman baru sebelum memutuskan untuk berkeluarga.

Namun dalam banyak percakapan keluarga, ukuran pencapaian hidup sering kali masih terlihat serupa, mulai dari pekerjaan tetap, pasangan hidup, lalu anak.

'Teror' Lebaran

Psikolog klinis Mira Amir mengatakan pertanyaan tentang pernikahan dapat menjadi tekanan sosial bagi sebagian orang, terutama mereka yang berada pada fase dewasa muda.

"Iya, itu kan memang jadinya social pressure bagi seseorang," kata Mira saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (11/3).

Dalam tahap perkembangan psikologis, usia dewasa muda memang merupakan fase ketika seseorang mulai membangun hubungan yang lebih serius dengan pasangan. Namun, kondisi kehidupan modern membuat proses tersebut tidak selalu berjalan mudah.

Kesibukan pekerjaan, keterbatasan waktu untuk berinteraksi, hingga tantangan menjaga hubungan menjadi beberapa faktor yang memengaruhi keputusan seseorang untuk menikah.

Suasana sanak keluarga bersilahturahmi di kawasan Manggarai Utara usai melaksanakan salat Ied. Jakarta, Senin, 31 Maret 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)Ilustrasi. Tradisi lebaran. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)

Karena itu, ketika pertanyaan tentang pernikahan terus dilontarkan, sebagian orang bisa merasa seolah belum memenuhi harapan sosial.

"Jadi, pertanyaan itu ibaratnya seperti menohok. Yang bisa berdampak pada diri seseorang, merasa gagal," ujarnya.

Perasaan tersebut dapat memengaruhi kondisi psikologis seseorang. Dalam beberapa kasus, tekanan sosial itu bahkan bisa memengaruhi rasa percaya diri.

"Bisa memicu self-esteem, rasa percaya dirinya terganggu. Bisa berkembang menjadi kecemasan," kata Mira.

Ia juga melihat tidak sedikit orang yang akhirnya merasa cemas ketika harus menghadiri acara keluarga besar. Bahkan, kecemasan tersebut bisa muncul jauh sebelum hari pertemuan berlangsung.

"Alhasil, tidak mengherankan jika menjelang hari H, gejala cemasnya sudah mulai timbul. Sulit tidur, lalu jadi mudah tersinggung," katanya.

Menurut Mira, cara penyampaian pertanyaan juga memengaruhi dampaknya. Ketika pertanyaan disampaikan berulang kali atau dengan nada yang merendahkan, situasi tersebut dapat terasa seperti perundungan.

Oleh karena itu, ia menilai penting bagi keluarga untuk lebih peka terhadap perasaan anggota keluarga lainnya.

"Minimal, para keluarga belajar cara menyampaikannya dengan proper. Tetap mengedepankan empati," ujarnya.

Lanjut di halaman berikutnya..

Add as a preferred
source on Google

Read Entire Article
Sinar Berita| Sulawesi | Zona Local | Kabar Kalimantan |